Link Web & Blog Islami (Ideologis)

 

582532_333274643409730_1175905532_n

 

1. Irfan Abu Naveed:

 

http://irfanabunaveed.wordpress.com

 

http://majelisideologis.wordpress.com 

 

2. Adi victoria 

 

– http://adivictoria.wordpress.com

 

– http://adivictoria1924.com

 

3. Pompy Syaiful

 

– http://pompysyaiful.com

 

– http://dakwahmedia.com

 

4. Farid Ma’ruf :

 

– http://syariahpublications.com/

 

– http://konsultasi.wordpress.com/

 

– http://baitijanati.wordpress.com

 

– http://faridm.com/

 

– http://faridmaruf.wordpress.com/

 

5. Nur Siswanto

 

– http://al-khilafah.org

 

6. Ady Saputra

 

– http://hti-fans.blogspot.com

 

7. Suroso

 

– http://www.globalmuslim.web.id

 

8. Mariki Dukung Khilafah

 

http://www.visimuslim.com

 

9. Heny Putra

 

http://www.hizbuttahririndonesia.info

 

10. Syabab Indonesia

 

http://www.syababindonesia.com

 

11. Indra Syaiful Bahry

 

http://voa-khilafah.blogspot.com

 

12.Syarif

 

http://bringislam.web.id

 

http://hti-indonesia.blogspot.com/

 

http://hizbut-tahrir-tv.blogspot.com

 

4. Loka Dwiartara

 

– http://lokadwiartara.blogspot.com

 

– http://muslimbloggermedia.blogspot.com

 

14. Fahmi Amhar

 

http://www.fahmiamhar.com/

 

15. Titok Priastomo

 

http://www.titokpriastomo.com/

 

16. Shiddiq al Jawi

 

http://khilafah1924.org/

 

17. Bey Laspriana

 

http://www.beylaspriana.blogspot.com/

 

18. Ridwan Taufik K.

 

– http://ceramahideologis.wordpress.com/

 

– http://www.ceramahideologis.com/

 

19. Ahmad Husein Fauzi

 

– http://penapenakecil.wordpress.com

 

20. Ujang Pebidiansyah

 

– http://detikislam.com

 

– http://dakwahremaja.com

 

21. Syabab.com

 

– http://www.syabab.com

 

21. Zulfahmi

 

http://www.save-islam.com/

 

23. Hafidz341

 

– http://hafidz341.wordpress.com

 

– http://drise-online.com

 

24. Adi Setiawan

 

– http://kajianremaja.net

copas http://irfanabunaveed.wordpress.com/category/link-web-blog-islam/

Kumpulan Bantahan – Jawaban Ilmiyyah HT (Resmi) & Syabab Atas Berbagai Fitnah Terhadap HT

 

b7ralamal-5d58104cd1

 

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين ومن دعا إلى الله بدعوته ومن تمسك بسنة رسوله وبعد

 

Berangkat dari keprihatinan atas perbuatan sebagian oknum yang tampaknya gemar menstigmatisasi negatif HT, sudah lama sebenarnya saya ingin menuliskan dan mengumpulkan kumpulan jawaban dan bantahan argumentatif atas berbagai tuduhan tersebut untuk menegakkan hujjah dan sebagai koreksi atas kekeliruan. Dan yang saya maksudkan dengan resmi dari HT adalah dalam definisi ini -termaktub di footer situs Maktab I’lamiy HT Pusat (http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/) & situs HTI (www.hizbut-tahrir.or.id):

 

فقط إصدارات حزب التحرير، الولايات، المكاتب الإعلامية، الناطقين الرسميين والممثلين الاعلامين لحزب التحرير تعبر عن رأي الحزب، وما عدا ذلك فهو يعبر عن رأي كاتبه وإن نشر في مواقع حزب التحرير أو مجلة المكتب الاعلامي
يجوز الاقتباس وإعادة نشر ما يصدر عن حزب التحرير ومواقعه شريطة أمانة النقل والاقتباس ودون بتر أو تأويل أو تعديل، وعلى أن يُذكر مصدر ما نقل أو نشر

 

“Publikasi-publikasi yang diterbitkan atas nama Hizbut Tahrir Pusat dan Wilayah, Kantor Media (al-Maktab al-I’lami), Juru Bicara dan Perwakilan Media Hizbut Tahrir saja yang merupakan pendapat Hizbut Tahrir. Dan yang selain itu merupakan pendapat penulisnya, sekalipun dipublikasikan dalam website Hizbut Tahrir Indonesia, Majalah, Tabloid, Multimedia yang diproduksi Hizbut Tahrir Indonesia. Boleh mengutip dan mempublikasikan kembali apa saja yang diterbitkan Hizbut Tahrir dan websitenya, dengan syarat tetap menjaga amanah (kejujuran) dalam penyalinan (penerjemahan) dan pengutipan tanpa memotong, menginterpretasi dan mengubahnya, serta harus mencantumkan sumber dari apa yang dikutip, diterjemahkan dan dipublikasikan.”

 

Laman ini akan terus saya update semampu saya. Dan kepada Allah kita memohon petunjuk dan bimbingan.. الله المستعان

 

Tanya Jawab Seputar Hizbut Tahrir & Metode Dakwah

 

Tanya Jawab Seputar Hizbut Tahrir (1)

 

Tanya Jawab Seputar Hizbut Tahrir (2)

 

Tanya Jawab Seputar Hizbut Tahrir (3)

 

Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik Yang Berdiri Sendiri Tidak Mewakili dan Tidak Diwakili Oleh Siapapun

 

Cara HT Mengungkapkan Dirinya Sendiri

 

Jawaban Tuntas Pertanyaan Berulang Seputar Khilafah dan Hizbut Tahrir

 

Mengenal Hizbut Tahrir

 

Tahapan Dakwah dan Aktivitas Politik Hizbut Tahrir

 

Jalan Rasulullah saw, Jalan Pasti Menuju Tegaknya Khilafah

 

Hizbut Tahrir : Dakwah Islam Pemikiran, Politik, dan Tanpa Kekerasan

 

Kenapa Hizbut Tahrir Partai Politik ?

 

Memoar Syaikh Abu Arqam (Generasi Awal Hizbut Tahrir)

 

Sejarah Awal Masuknya Hizbut Tahrir ke Indonesia

 

Ustadz Abu Zaid (DPP HTI): HT Hanya Meneladani Metode Dakwah Nabi SAW

 

Jalan Menuju Khilafah

 

Jalan Utopia Menuju Khilafah

 

Hizbut Tahir Menilai Berhasil Kenalkan Konsep Khilafah

 

Fikrah Akidah Islam

 

Capaian Muktamar Khilafah 2013

 

Muktamar Khilafah Sia-sia?

 

Wawancara Koran al Liwa’ dengan Ustadz Ahmad Al-Qashash (Media Informasi Hizbut Tahrir Lebanon) : Hizbut Tahrir Berasaskan Aqidah Islam

 

Wawancara Wartawan Al Quds Al Arabi dengan Ahmad Al-Khatib (Anggota Media Informasi Hizbut Tahrir) di Palestina

 

Keterangan Pers: Hizbut Tahrir yang Berjuang untuk Khilafah dengan Garis Perjuangan yang Sudah Tetap Tidak Akan Berhenti Menarik Perhatian Terhadapnya!

 

Jangan Takut Bergabung dengan Hizbut Tahrir

 

Koreksi Ilmiyyah HT atas Fitnah & Kesalahan Pemikiran

 

Koreksi Atas buku WAMY dan Buku-Buku Derivatnya (Al-Thariiq ilaa Jamaa’at al-Muslimiin)

 

Koreksi Atas Artikel Sabili: “Menguak Hizbut Tahrir”

 

Catatan Jubir: HT Elitis?

 

Beberapa Tanggapan Terhadap Khilafah

 

Hizbut Tahrir dan Pemboikotan Media Massa (Media Anti Islam)

 

Hizbut Tahrir adalah Gerakan Islam yang Bekerja Membangun Negara Khilafah yang Merupakan Kewajiban Syariah dengan Metodologi yang Jelas dan Hanya Berdasarkan Syariah yang Benar

 

Melarang Aspirasi Penegakkan Syariat dan Khilafah Adalah Menentang Karya Agung Para Ulama dan Melestarikan Kerusakan Sistem Demokrasi

 

Catatan Atas Pemberitaan Seputar Hizbut Tahrir Terkait Konferensi Media Global

 

Hizbut Tahrir Berjuang Berlandaskan Islam (Tanggapan Atas Artikel Syathah di Surat Kabar Al-Intibahah)

 

Gerakan Islam dan Masalah Khilafah (Tanggapan Hizbut Tahrir Atas Surat Kabar Al-Ahram)

 

HT Turki: Siapa yang Mengklaim Adanya Hubungan antara Hizbut Tahrir dengan Ergenekon

 

Bantahan Terhadap Beberapa Kerancuan Koran asy-Syarq al-Awsath Terhadap Hizbut Tahrir

 

KETERANGAN PERS: Bantahan Hizbut Tahrir Indonesia Terhadap Buku Ilusi Negara Islam

 

Ilusi Buku Ilusi Negara Islam

 

Demokratisasi atau Revitalisasi? (Tanggapan untuk Ahmad Syafii Maarif)

 

Kenapa Ideologi Islam Dianggap Asing, Sedangkan Kapitalisme Tidak?

 

Bantahan Terhadap Artikel Dr Syafii Ma’arif

 

Koran “Shariato Phobia” (Kritik Terhadap The Jakarta Post)

 

Catatan Jubir HTI: The Jakarta Post dan Bias Media

 

The Jakarta Post/opinion : Inaccurate and misleading reports on HTI

 

Mencabut Terorisme dengan Dakwah (Tanggapan Untuk Jawa Pos)

 

Tanggapan Terhadap Artikel di Koran Ar-Riyadh

 

HT Turki Bantah Tudingan Media Massa

 

Hizbut Tahrir Wilayah Lebanon Tolak Tudingan Melakukan Aksi Bersenjata

 

Keputusan Penuntut Umum Denmark: Membatalkan Tuduhan Palsu Terhadap Hizbut Tahrir

 

Tanggapan HTI Jawa Barat Atas Berita Berjudul: ”Bangladesh Menahan 27 Penyebar Selebaran” Di Pikiran Rakyat Pada Edisi Ahad, 15 Maret 2009

 

Amir HT Berjuang Keras Bersama Umat!

 

Profil Amir HT Ke-1 Al-’Allamah Asy-Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani

 

Profil Amir HT Ke-2 Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Abdul Qadim Zallum

 

Profil Amir HT Ke-3 Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah

 

Alhamdulillah, Facebook dan Twitter Resmi Amir Hizbut Tahrir Al-‘Alim ‘Atha bin Kholil Abu Ar-Rasytah Diluncurkan

 

Page FB Resmi Amir HT

 

Website Resmi Amir HT

 

Amir Hizbut Tahrir: Dukunglah Penegakkan Khilafah

 

Teks Pidato Amir Hizbut Tahrir Kepada Warga di Suriah

 

Surat Amir Hizbut Tahrir Kepada Salah Seorang Ulama Al-Azhar Syaikh Hasan al-Janaini yang Menjadi Pejuang Khilafah

 

Testimoni Sebagian Pandangan Tokoh, Ulama tentang HT & Perjuangan Menegakkan Syari’ah wal Khilafah

 

Prof. Hassan Ko Nakata: Hanya Hizbut Tahrir Gerakan Politik Islam yang Memperjuangkan Terealisasinya Khilafah

 

Salah Satu Guru Besar Al-Azhar Al-Syariif Menjadi Pejuang Khilafah

 

Kumpulan Testimoni: Kita Akan Dukung Terus Hizbut Tahrir

 

Buya dan Asatidz Sumbar: Hizbut Tahrir Wadah Perjuangan Para Alim Ulama Untuk Menegakkan Khilafah

 

Testimoni Ulama: “Saya mahzabnya bukan Rambo yang berjuang sendirian, maka saya bergabung dengan Hizbut Tahrir”

 

Kiyai Dadang: “Saya Mendukung Hizbut Tahrir Sepenuh Hati, dan Siap Membantu dengan Segenap Kemampuan yang Ada”

 

Ulama Sumedang, Siap Berjuang Bersama Hizbut Tahrir Untuk terapkan Syariah dan Khilafah

 

Ulama Banjarnegara: “Begitu Kenal Dengan HTI, Saya Langsung Jatuh Hati”

 

Gus Lubabul: “Saya Warga NU, Tetapi Secara Batiniah Merasa Anggota HTI”

 

Komentar Beberapa Tokoh Lampung Terhadap Manifesto Hizbut-Tahrir untuk Indonesia

 

Workshop Ulama Rancaekek Timur:“Saya ingin Khilafah tegak besok”

 

Tokoh Lampung; Jiwa Kami Tetap Akan Mendukung Perjuangan HTI dalam Menegakkan Khilafah

 

Kalau Bisa HTI Rutin Memberikan Pencerahan kepada Jamaah

 

Ustadz Arifin Ilham : Puncak Kesufian Dalam Islam Adalah Dakwah dan Jihad Untuk Tegaknya Syariah dan Khilafah!

 

Pimpinan Ponpes Nurul Ulum Jember, KH. Abdullah: Kami Jalin Hubungan dengan HTI

 

Peduli Akan Wajibnya Berhukum Dengan Syariat Islam Kyai Muchlash Zain Undang Para Ulama dan Tokoh Ummat

 

Ulama Jabar: Kami Akan Terus Mensosialisasikan Wajibnya Syariah dan Khilafah!

 

Workshop Ulama Jawa Timur I : “Penyatuan Sikap dan Langkah Ulama Untuk Penegakan Syariah”

 

Ulama Mendukung Hizbut Tahrir Perjuangkan Syariah dan Khilafah

 

HT Pecahan dari Al-Ikhwan Al-Muslimin?

 

Kala Sebagian Pemimpin dan Anggota Al-Ikhwan Al-Muslimin Jatuh Hati Kepada Hizbut Tahrir

 

HT, Perjuangan Menegakkan Al-Khilafah & Jihad

 

Jihad dalam Perspektif Hizbut Tahrir

 

Ustadz Ahmad Al-Qashash (Media Informasi Hizbut Tahrir Lebanon): Jihad Hukumnya Wajib!

 

Haji & Jihad

 

Soal Jawab Amir HT: الجهاد في العمل لإقامة الدولة

 

Soal Jawab Amir HT (Terjemah): Jihad dalam Perjuangan Untuk Menegakkan Daulah dan Ifadhah dalam Haji

 

Menyoal Perjuangan Bersenjata Untuk Menegakkan Daulah Islamiyah

 

HT & Pemahaman Mengenai Bid’ah

 

Jawab Soal Amir HT: Tentang Bid’ah

 

HT, Syi’ah & Sufy

 

Kami Tidak Memiliki Hubungan dengan “Hizbut Tahrir Mesir yang Sufi” atau “Hizbut Tahrir Baru yang Syiah”

 

Tanya Jawab Amir HT: Hukum Taqiyyah & Syi’ah

 

Sunni-Syiah dalam Naungan Khilafah

 

HTI: Konsep Khilafah Islam Berbeda dengan Konsep Imamah Syiah

 

Syi’ah Dalam Kitab Resmi Hizbut Tahrir

 

HT & Syi’ah – Khomeini

 

Tawaran Hizbut Tahrir Kepada Khameini 

 

Syubhat: Hizbut Tahrir Mau Membai’at Khomeini Sebagai Khalifah? 

 

Tidak Benar HT Pernah Tawarkan Khomeini Menjadi Kholifah

 

HT & Madzhab

 

Hizbut Tahrir Apakah Sebuah Madzhab?

 

Bagaimana Menyikapi Perbedaan Madzhab

 

Persoalan Seputar Madzhab

 

Ahmadiyah: Perbedaan atau Penyimpangan?

 

Khilafah Hizbut Tahrir?

 

Khilafah Bukan Negara Mazhab

 

Ulama Empat Mazhab Mewajibkan Khilafah

 

Dalil yang Tegas Tentang Kewajiban Khilafah

 

Kewajiban Menegakkan Khilafah

 

Jawab Soal: Hadits Bisyarah

 

KH. Drs. Hafidz Abdurrahman, MA : Hizbut Tahrir Sudah Punya Master Plan dan Road Map Untuk Menegakkan Khilafah

 

Ust H. Musthafa A Murtadho: Menegakkan Khilafah: Kewajiban Ulama

 

Menegakkan Khilafah bukan hanya Kewajiban Hizbut Tahrir

 

Siapakah Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah?

 

Siapakah Aswaja’

 

Siapakah Aswaja’ (2)

 

Khilafah Menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah

 

HT = Mu’tazilah? Khawarij?

 

Apakah HT adalah Khawarij atau Muktazilah?

 

Pandangan Hizbut Tahrir Tentang Khawarij

 

Hizbut Tahrir Khawarij?

 

Bagaimana Mensikapi Kelompok Sempalan?

 

Syabab HT “OMDO”?

 

”Syabab HT Omdo”?! Inilah Jawaban Al-Qur’an & Al-Sunnah (Jawaban Tuntas Syar’iyyah)

 

Bicaralah! (Ust. Dr. M. Rahmat Kurnia – DPP HTI)

 

Edukasi Publik, Sia-sia?

 

M. Ismail Yusanto: Dukungan Umat Makin Nyata!

 

Muhammad Saleem (Aktifis Hizbut Tahrir Inggris) : Perubahan Membutuhkan Opini Publik!

 

Haram Golput?

 

Parlemen Bukan Satu-satunya Jalan Perubahan (Ada Jalan Lain yang Jelas Syar’i)

 

Pemilu dan Perubahan

 

Hukum Islam Atas Koalisi Parpol Islam dan Parpol Sekuler dalam Pandangan Islam

 

Hukum Islam Menjadi Caleg dalam Sistem Demokrasi

 

Masih Percaya Pada Demokrasi?

 

Parpol Islam Kian Pragmatis

 

Perubahan Revolusioner Perspektif Islam

 

Tanggapan Hizbut Tahrir Indonesia Terhadap Fatwa MUI Tentang Golput Tahun 2009

 

Ismail Yusanto: Seharusnya Fatwa Haram Terlibat dalam Sistem Sekuler

 

Fatwakanlah Wajibnya Menerapkan Syariah Islam!

 

Jubir HTI, HM Ismail Yusanto: Umat Harus Mendukung Partai Islam Ideologis

 

Pemilu 2009: Umat Berharap Pada Partai Yang Memperjuangkan Syariah Islam

 

Komentar Politik : Golput Meningkat, Elit Politik Panik

 

Partai Islam, Jangan Sekedar Basa-Basi

 

Ulama dan Khilafah: Islam Agama Sekaligus Negara

 

Ulama’ Dinilai Karena Sikapnya, Bukan Sebatas Ilmunya

 

Kedudukan Fatwa dalam Syariat Islam

 

Ulama Wajib Mengoreksi Penguasa

 

Bedah Qaidah Ahwanu Al-Syarrain (قاعدة أهون الشرين)

 

HT & Ghibah (Menjawab Tuduhan bahwa HT Tukang Ghibah (Konotasi Negatif))

 

Penjelasan al-’Allamah al-Imam al-Nawawi Tentang Perincian Ghibah (Part. I)

 

Slide Show Kajian HT Cianjur “Menjaga Lisan & Hukum Ghibah dalam Islam”

 

HT & Hukum Muqatha’ah

 

Bolehkah Memutus Hubungan Dengan Sesama Muslim?

 

Soal Jawab: Hukum Memutus Hubungan (Muqatha’ah) dengan Sesama Muslim

 

HT Mengabaikan & Menyepelekan Akhlak?

 

Kritik Syabab atas Para Pencela HT “Menyepelekan Akhlak”

 

Syabab HT Menikmati Demokrasi?

 

Menikmati Demokrasi? Apa Kata Imam Sufyan al-Tsauri? 

 

Berterima Kasih Pada Demokrasi?

 

KH Shiddiq al-Jawi: Islam Menolak Demokrasi

 

Kerusakan Negeri Oleh Demokrasi

 

Siapa Diskriminatif?

 

Dalam Demokrasi, Siapapun Cenderung Jadi Buruk

 

Dampak Buruk Sistem Demokrasi

 

Wajah Buruk Demokrasi

 

Hakikat Buruk Demokrasi

 

Dengan Demokrasi, Orang Jadi Munafik

 

Hizbut Tahrir dan Amirnya Tidak Anti Kritik & Koreksi

 

Jawab Soal Amir HT: Penolakan Hizbut Tahrir dan Amirnya atas Berbagai Kritik dan Koreksi

 

Klarifikasi Seputar Penolakan Hizbut Tahrir dan Amirnya atas Kritik dan Koreksi

 

Hizbut Tahrir Memperbolehkan Mencium Wanita Ajnabiyyah?

 

Benarkah Hizbut Tahrir Memperbolehkan Mencium Wanita Ajnabiyyah?

 

Thalabun Nushrah Itu Hukum Syara’ – Metode Dakwah Rasulullah SAW!

 

Tanya Jawab Amir HT: Thalabun Nushrah

 

KH Ali Bayanullah Al Hafidz: “Ibadah Haji, Momentum Thalabun Nushrah”

 

Ustadz Syamsudin Ramadhan : Tholabun Nushroh Metode Syar’i Menegakkan Khilafah

 

Soal Jawab Thalab an Nushrah

 

Thalabun-Nushrah: Kunci Perubahan

 

Thalabun Nushrah Bagian dari Metode Dakwah Rasulullaah SAW

 

Batas Waktu Kekosongan Tegaknya Al-Khilafah yang Merupakan Kewajiban

 

Jawab Soal Amir HT: Tenggak Waktu yang Diperbolehkan bagi Kaum Muslimin untuk Menegakkan al-Khilafah

 

Umat Haram Tanpa Khalifah Lebih Dari Tiga Hari?

 

Hukum Status Ormas Islam

 

Jawaban atas Tuduhan Terhadap HTI Terkait Status “Ormas Islam” (I)

 

Kumpulan Bantahan Ilmiyyah atas Berbagai Dalih Pembenaran terhadap Demokrasi

 

Inilah Jawaban-Jawaban Kami atas Berbagai Dalih Pembenaran Terhadap Demokrasi (Kumpulan Makalah Ilmiyyah)

 

Kumpulan Nasihat-Nasihat Terkait

 

Nasehat Berharga Syaikh Thalib Awadallah Kepada Syabab Hizbut Tahrir Dalam Berdebat

 

Adab-Adab Berdebat dalam Islam (Kajian Kitab Nafsiyyah Islamiyyah)

 

Nasihat atas Perdebatan yang Tidak Syar’i (Saling Mengolok-Olok, -)

 

Kecaman Syari’at Terhadap Sifat Takabur & Sikap Melecehkan Lawan Diskusi

 

Hati-Hati Berfatwa Tanpa Ilmu

 

Nasihat Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Atas Pentingnya Iman Terhadap Akhirat (Kajian Tafsir Syaikh ‘Atha)

 

Adab Bergaul Dengan Sesama Muslim

 

Kumpulan Download Bantahan Ilmiyyah (File Ppt, Pdf & Word):

 

Menjawab Syubhat terhadap Ide-ide Hizbut Tahrir ==>direct download, resumeable

 

Menjawab Syubhat terhadap Ide-ide Hizbut Tahrir ==>alternatif

 

Bantahan HT atas Tulisan Idrus Ramli

 

Kumpulan Download E-Book Kitab HT (Arab – Indo)

 

Download Sebagian E-Book Kitab Hizbut Tahrir (Gratis)

 

Unduh Kitab-Kitab HTI – 1

 

Unduh Kitab-Kitab HTI – 2

 

copas by http://irfanabunaveed.wordpress.com/2013/10/22/kumpulan-bantahan-jawaban-ilmiyyah-ht-resmi-syabab-atas-berbagai-fitnah-terhadap-ht/

Seputar Batasan Aurat Pria dan Wanita

Soal:

 

Sejauh mana batasan aurat wanita di hadapan pria  dan sebaliknya; termasuk di depan mahram, dan non-mahram?

 

Jawab:

 

Aurat bagi wanita di hadapan lelaki asing, yang bukan mahram-nya, adalah seluruh badannya. Ini diambil dari nash al-Quran yang menyatakan:

 

وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

 

Hendaknya wanita tidak menampakkan kecantikan (perhiasan)-nya kecuali yang boleh tampak dari dirinya (QS an-Nur [24]: 31).

 

Frasa “yang boleh tampak dari dirinya” adalah wajah dan kedua telapak tangan. Inilah batasan aurat di hadapan lelaki asing (bukan mahram). Namun, aurat wanita di hadapan lelaki yang merupakan kerabatnya, atau sesama kaum wanita, adalah saw’atani (dua kemaluan depan dan belakang), atau qubul (kemaluan depan) dan dubur (kemaluan belakang). Dalilnya adalah firman Allah SWT:

 

وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّلاَبَائِهِنَّ

 

Hendaknya wanita tidak menampakkan kecantikan (perhiasan)-nya kecuali kepada suami-suami mereka atau bapak-bapak mereka (QS an-Nur [24]: 31).

 

Kemudian Allah SWT berfirman:

 

أَوْ نِسَائِهِنَّ

 

…dan kepada kaum perempuan (sesama) mereka (QS an-Nur [24]: 31).

 

Kedua nas di atas menyatakan, seolah tidak ada batasan aurat bagi wanita di hadapan kerabat dan sesama kaum wanita. Namun, ada Hadis Nabi saw. yang menyatakan:

 

لاَيَنْظُرِالرَّجُلُإِلَى عَوْرَةِالرَّجُلِوَلاَ الْمَرْأَةُإِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

 

Hendaknya laki-laki tidak melihat aurat laki-laki dan perempuan tidak melihat aurat sesama perempuan (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Abu Said al-Khudri).

 

Jika hadis di atas digandengkan dengan kedua ayat di atas, maka batasan tersebut mengarah pada kedua kemaluan, depan dan belakang (saw’atani). Ini dikuatkan dengan hadis lain saat Nabi saw. mengajukan pertanyaan istinkari (untuk mengingkari) kepada pemuda yang hendak memasuki rumah ibunya tanpa izin:

 

أَتُحِبُّأَنْ تَدْخُلَ عَلَى أُمِّكَ وَهِيَ عِرْيَانَةً

 

Maukah kamu memasuki rumah ibumu, sementara dia dalam keadaan telanjang? (HR Abu Dawud).

 

Pertanyaan Nabi saw. ini tidak membutuhkan jawaban ini karena jawabannya sudah jelas, “Tidak.” Ini sebenarnya bukan merupakan alasan atas kewajiban meminta izin (‘illat isti’dzan), tetapi hanya menjelaskan peristiwa (momentum) tertentu. Jika tidak maka ayat di atas bisa dijadikan dasar, bahwa tidak ada batasan aurat bagi wanita, baik di hadapan kerabat maupun sesama wanita; kecuali apa yang ditunjukkan oleh hadits, yaitu saw’atani (dua kemaluan, depan dan belakang). Karena itu aurat wanita di hadapan lelaki mahram dan sesama wanita, sebagaimana yang dinyatakan di dalam ayat-ayat di atas, tak lain adalah saw’atani.

 

Ini merupakan qawl qadim Hizb, sebagaimana yang dinyatakan dalam Nasyrah Soal-Jawab tanggal 8/5/1970, juga Nasyrah Soal-Jawab tanggal 12/9/1973. Namun, batasan tentang aurat wanita di hadapan lelaki mahram dan sesama wanita adalah saw’atani ini ditinggalkan oleh Hizb.

 

Dalam kitab An-Nizham al-Ijtima’i, edisi Muktamadah, cet. IV, tahun 2003, dinyatakan sebagai berikut:

 

Boleh laki-laki melihat wanita mahram-nya, baik Muslimah maupun bukan, lebih dari wajah dan kedua telapak tangan, yaitu semua anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahallu zinah), tanpa dibatasi anggota badan tertentu. Ini karena adanya nas yang menyatakan tentang itu juga karena kemutlakan nash ini. Allah SWT berfirman (yang artinya): Janganlah para wanita menampakkan perhiasannya, kecuali suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau perempuan (sesama Muslim) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan kepada perempuan, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan (TQS an-Nur [24]: 31).

 

Mereka semuanya itu boleh melihat perempuan mahram-nya, baik rambut, leher, tempat gelang tangan, tempat gelang kaki, tempat kalung di leher, dan anggota badan lain, yang memang layak disebut tempat hiasan. Ini karena Allah SWT. Menyatakan (yang artinya): Hendaknya mereka tidak menampakkan kecantikannya… (TQS an-Nur [24]: 31), yaitu tempat perhiasan mereka; kecuali kepada orang-orang yang telah disebutkan oleh al-Quran, mereka boleh melihat apa yang ditampakkan oleh pakaian kerja, yaitu pakaian yang dipakai saat bekerja.

 

Penjelasan di atas membatasi aurat perempuan di hadapan mahram dan sesama wanita adalah mahallu zinah, sementara batasan saw’atani (kemaluan depan dan belakang) di atas lebih longgar, termasuk buah dada, perut, pusar, dan anggota tubuh wanita lain yang tidak lazim disebut zinah, tetapi bukan saw’atani (kemaluan depan dan belakang). Dengan demikian, mahallu zinah ini menjadi pembatas aurat wanita yang boleh dilihat oleh laki-laki mahram dan sesama wanita, sebagaimana yang ditegaskan di dalam QS an-Nur [24]: 31 di atas.

 

Mengenai perbedaan pandangan tentang aurat, sebenarnya tidak ada masalah. Sebab, ada perbedaan yang besar terhadap sesuatu yang lebih krusial dibandingkan dengan soal aurat, namun tidak ada masalah. Perbedaan ini wajar mengingat banyaknya hadis yang menjelaskan masalah ini. Mengkompromikan berbagai hadis ini membutuhkan kemampuan berijtihad. Uraian lebih jauh tentang ragam pendapat dalam hal ini bisa dilihat dalam kitab Nayl al-Awthar yang ditulis oleh Al-Hafizh asy-Syaukani.

 

Tentang aurat pria yang diadopsi oleh Hizb—yakni antara pusar dan lutut—telah  ditunjukkan oleh sejumlah hadis, yang bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib ra. yang mengatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

 

لاَ تُبْرِزُ فَخِذَكَ وَلاَ تَنْظُرُإِلَى فَخِذِ حَيٍّ وَلاَ مَيِّتٍ

 

Janganlah kamu menampakkan pahamu dan jangan pula kamu melihat paha orang yang masih hidup maupun telah mati (HR Abu Dawud dan Ibn Majjah).

 

Muhammad bin Jahsy berkata, Rasulullah saw. pernah berjalan berpapasan dengan Ma’mar, sementara kedua pahanya terbuka. Lalu Nabi saw. bersabda:

 

ياَ مَعْمَرُ غَطِّ فَخِذَيْكَ فَإِنَّ الْفَخِذَيْنِ عَوْرَةٌ

 

Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu karena kedua paha itu adalah aurat (HR Ahmad dan al-Bukhari).

 

Ini membuktikan, bahwa kedua paha adalah aurat. Memang, ada beberapa hadis yang menyatakan bahwa Nabi saw. telah menyingkap kedua pahanya. Namun, hadis tersebut bertentangan dengan sejumlah hadis yang menyatakan, bahwa kedua paha adalah aurat. Semuanya ini adalah hadis sahih. Hadis-hadis ini dituturkan oleh ‘Aisyah ra.:

 

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَمُضْطَجِعًا فِيْ بَيْتِي كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ

 

Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah tidur miring di rumahku, sementara kedua pahanya tersingkap (HR Muslim).

 

Anas bin Malik ra. berkata:

 

إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَيْبَر حَسَرَ الازَارَ عَنْ فَخِذِهِ

 

Sesungguhnya Nabi saw. pada saat Perang Khaibar telah menyingkap sarung dari pahanya (HR Ahmad dan al-Bukhari).

 

Dengan begitu terjadi kontradiksi antara kedua hadis ini.

 

Berbagai hadis yang menyatakan paha adalah aurat merupakan perkataan Nabi. Adapun hadis-hadis yang menyatakan bahwa Nabi saw. menyingkap pahanya merupakan perbuatan beliau. Jika perbuatan dengan perkataan Nabi saw. berbenturan, maka bisa disimpulkan, bahwa perbuatan tersebut khusus untuk Nabi saw., sementara perkataannya berlaku umum bagi umatnya. Karena itu, hadis yang menyatakan bahwa Nabi saw. menyingkap pahanya tidak bisa digunakan sebagai hujjah, karena merupakan kekhususan bagi beliau. Buktinya, Nabi saw. telah menyatakan, bahwa paha adalah aurat bagi kaum Muslim. Dengan demikian, aurat laki-laki adalah bagian tubuh dari pusar dan lutut.

 

Adapun larangan pria melihat aurat sesama pria dan wanita melihat aurat sesama wanita adalah aurat mughalladhah (aurat besar), yaitu saw’atan (dua kemaluan: depan dan belakang), yaitu qubul (kemaluan depan) dan dubur (kemaluan belakang); bukan aurat secara mutlak. Khusus bagi mahram, maka dalam kondisi tertentu dibolehkan melihat aurat mughalladhah, seperti saat anak memandikan jenazah ayah atau ibunya; ayah membuka pakaian anak perempuannya untuk mengajari mandi dan bersuci, termasuk istinja’ (bersuci dengan menggunakan batu, ketika tidak ada air).

 

Inilah hukum syariah tentang aurat pria dan wanita secara umum dan batasannya. Di luar itu, sebenarnya ada masalah yang tak kalah penting ketimbang hukum aurat itu sendiri, yaitu masalah adab. Meski ada batasan yang tegas tentang aurat, dan dibolehkan aurat itu terbuka, meski sendirian, Nabi saw. tetap mengingatkan:

 

فَاللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ

 

Hendaknya dia lebih layak malu kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala (HR Khamsah, kecuali an-Nasa’i).

 

Dengan demikian suami-istri boleh saja saling melihat auratnya dan bertelanjang bulat ketika berhubungan badan, tetapi Nabi saw. mengingatkan, agar tidak dilakukan, karena malaikat malu kepada mereka. Begitu juga ketika di kamar mandi, boleh saja mandi bertelanjang, tetapi harus diingat, bahwa ada Allah Maha Melihat sehingga dia mestinya lebih malu kepada Allah SWT ketimbang kepada yang lain.

 

Inilah yang justru sering dilupakan: orang hanya bicara soal hukum, tetapi mengabaikan adab dan akhlak yang menyertai hukum tersebut.

 

WalLahu a’lam. [Diasuh oleh: KH. Hafidz Abdurrahman]

Pandangan Islam Terhadap Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)*

audio
Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi**
Fakta JKN oleh BPJS
JKN (Jaminan Kesehatan Nasional, Jamkesnas) adalah program jaminan kesehatan nasional yang diselenggarakan oleh BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). BPJS ini merupakan lembaga yang dibentuk berdasarkan UU No 24 Tahun 2011 tentang BPJS, yang merupakan amanat dari UU yang ada sebelumnya, yaitu No 40 Tahun 2004 Tentang SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional). UU BPJS ini ini menetapkan ada dua jenis layanan BPJS, yaitu BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan. BPJS sendiri akan mulai beroperasi tanggal 1 Januari 2014 yang tiba sebentar lagi.
Apa yang akan diperoleh rakyat dengan adanya JKN? Konon kabarnya berupa jaminan kesehatan yang disebut UHC (universal health coverage), yaitu cakupan layanan kesehatan yang menyeluruh. Artinya, rakyat siapapun bisa berobat gratis di mana saja, kapan saja, tanpa ada diskriminasi. Dalam salah satu forum sosialisasi JKN, seorang dokter berucap dengan mulutnya,”Mau cuci darah 1000 kali juga gratis, tidak ada batasan…Tidak ada lagi pasien yang meninggal karena dipingpong dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.” (majalahkesehatan.com, 23 Agustus 2013).
Kelihatannya itu sangat bagus dan menggiurkan rakyat, khususnya rakyat miskin, yang selama ini kurang mampu mengakses layanan kesehatan. Tapi tunggu dulu. Semua itu tidak bisa diperoleh dengan gratis, melainkan harus bayar. Jadi jaminan kesehatan yang disebut JKN ini menggunakan prinsip asuransi sosial, yakni setiap individu rakyat wajib membayar iuran per bulan kepada BPJS. Sifat pembayarannya pasti, alias paksaan. Jika rakyat tidak membayar, akan dihukum oleh negara.
Dalam UU No 40 Tahun 2004 tentang SJSN dan UU No 24 Tahun 2011 tentang BPJS, disebutkan pembiayaan JKN berasal dari iuran rakyat yang mengikuti prinsip asuransi sosial yang sifatnya wajib. Dalam UU No 40 Tahun 2004 tentang SJSN pasal 19 ayat 1 disebutkan,”Jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas.” Dalam pasal 1 butir ke-3 UU No 40 Tahun 2004 disebutkan,”Asuransi sosial adalah suatu mekanisme pengumpulan dana yang sifatnya wajib.”
BPJS dibolehkan mengambil iuran secara paksa (alias memalak) dari rakyat setiap bulan (mulai 1 Januari 2014), dengan masa pungutan yang berlaku seumur hidup, dan uang yang diambil tidak akan dikembalikan. Kecuali dikembalikan dalam bentuk layanan kesehatan menurut standar BPJS, yaitu saat sakit saja. Jika rakyat tidak bayar, akan dihukum oleh negara dengan sanksi berupa denda. (Lihat Buku Saku FAQ BPJS Kesehatan, Jakarta : Kemenkes RI, 2013).
Berapa besarnya uang yang dipalak oleh BPJS? Sesuai standar besarnya iuran JKN, jika seseorang itu pekerja yang menerima upah, misalnya PNS atau karyawan perusahaan swasta, besarnya iuran adalah 5% dari uang gaji, dimana 3% dibayar oleh pemberi kerja dan 2% dibayar oleh pekerja. Misalkan seorang pria PNS mempunyai seorang isteri dan tiga anak usia sekolah, dengan penghasilan Rp 3.755.000 per bulan. Maka besarnya iuran adalah 2% dari Rp 3.755.000 atau Rp 75.100 per bulan.
Jika seseorang itu pekerja yang bukan penerima upah, misal tukang bakso, tukang bubur kacang ijo, atau tukang becak, besarnya iuran per orang per bulan Rp adalah 25.500 (untuk perawatan kelas III), atau Rp 42.500 (untuk perawatan kelas II), atau Rp 59.500 (untuk perawatan kelas I). Padahal pria PNS tersebut dan juga tukang bakso tadi, tak hanya dibebani pemalakan struktural atas nama BPJS, tapi masih harus bayar uang sekolah anak, bayar biaya listrik, air, pulsa HP, tranportasi, bensin, rumah, pakaian, dan seterusnya yang harganya bukan semakin murah, malah semakin melangit dari hari ke hari. Inikah kesejahteraan rakyat yang diidamkan-idamkan oleh negara bagi rakyatnya?
Jika kita sebagai rakyat merasa terbebani (atau merasa terjajah) dengan iuran paksa oleh PBJS ini, itu perasaan yang wajar. Mengapa? Karena memang konsep jaminan kesehatan BPJS ini bukan karya anak bangsa sendiri, melainkan konsep dari negara kafir penjajah. Mana ada penjajah yang tulus ikhlas menyejahterakan masyarakat yang dijajahnya? Kalaupun berlagak menolong, mustahil motif penjajah adalah motif yang murni sosial, melainkan pasti ada embel-embel ingin meraup materi (uang) secara jahat dan rakus.
Konsep jaminan kesehatan nasinal (JKN) yang ada saat ini, berasal dari WTO (Word Trade Organization), institusi perdagangan global bentukan Barat pimpinan Amerika, yang memasukkan layanan kesehatan sebagai salah satu kesepakatan perdagangan global, atau yang disebut dengan GATS (General Agreements Trade in Services) tahun 1994. (Rini Syafri, “Mengapa JKN Wajib Ditolak”, http://www.hizbut-tahrir.or.id, hlm. 1).
Konsep JKN ini berakar dari suatu pandangan yang bersifat neoliberalistik, artinya berusaha menghilangkan peran negara/pemerintah dalam mengurus rakyat. Konsep ini menegaskan bahwa layanan kesehatan dianggap lebih baik diselenggarakan melalui asuransi sosial daripada diselenggaraakan oleh pemerintah. Dengan kata lain, JKN pada dasarnya adalah pengalihan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang asalnya ada di pundak pemerintah, lalu dipindahkan ke pundak institusi yang dianggap berkemampuan lebih tinggi dalam membiayai kesehatan atas nama peserta jaminan sosial. Institusi yang dimaksud, untuk konteks Indonesia, adalah BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). (Rini Syafri, “Mengapa JKN Wajib Ditolak”, http://www.hizbut-tahrir.or.id, hlm. 2).
Konsep JKN ala Barat itu akhirnya menyusup ke Indonesia dan menjelma dalam bentuk UU SJSN (2004) dan BPJS (tahun 2011). Semua itu terjadi lantaran pemerintah Indonesia dipaksa oleh Barat untuk mengadopsi dan melaksanakannya, khususnya melalui LoI (Letter of Intent) antara pemerintah Indonesia dengan IMF pada saat Indonesia berupaya mengatasi krisis tahun 1998 yang lalu. (Arim Nasim, “SJSN dan BPJS : Memalak Rakyat Atas Nama Jaminan Sosial”, Tabloid Media Umat, Edisi 118, 20 Desember 2013 – 2 Januari 2014, hlm. 14).
Pandangan Hukum Islam
Haram hukumnya pemerintah menyelenggarakan jaminan kesehatan nasional berdasarkan UU No 40 Tahun 2004 Tentang SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) dan UU No 24 Tahun 2011 tentang BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).
Ada 5 (lima) alasan keharamannya, sebagai berikut :
Pertama, karena konsep jaminan kesehatan nasional tersebut bukanlah peraturan Syariah Islam, melainkan peraturan Hukum Kufur. Yang disebut hukum kufur, menurut Imam Taqiyuddin An Nabhani, adalah setiap hukum yang bukan hukum Syariah Islam. (kullu hukmin ghairi syar’iyyin huwa hukmu kufrin). (Taqiyuddin An Nabhani, An Nizham Al Ijtima’i fi Al Islam, Beirut : Darul Ummah, 2004, hlm. 136).
Padahal seorang muslim, siapapun dia, baik rakyat atau penguasa/pemimpin, haram hukumnya menerapkan hukum kufur, dan sebaliknya wajib menerapkan Syariah Islam saja, bukan hukum yang lain. Banyak ayat Al-Qur`an dan Al-Hadits yang menegaskan hal tersebut.
Misalkan firman Allah SWT :
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الظَّالِمُونَ
 “Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah (Syariah Islam), maka mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al Maa`idah : 45).
Padahal hukum Islam itulah hukum yang terbaik, bukan hukum buatan manusia. Hukum buatan manusia inilah yang dalam Al Qur`an disebut dengan hukum Jahiliyyah / hukum thaghut. Firman Allah SWT :
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنْ اللَّهِ حُكْماً لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki. Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maaidah : 50).
Firman Allah SWT :
يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ
“Mereka (orang-orang munafik) itu hendak berhukum kepada thaghut padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu.” (QS An Nisaa` : 60).
Kedua, karena konsep jaminan kesehatan nasional tersebut berasal dari kaum kafir penjajah yang dipaksakan atas kaum muslimin Indonesia.
Pemaksaan kaum kafir tersebut jelas dapat menimbulkan dominasi kaum kafir penjajah atau antek-anteknya atas kaum muslimin. Pada waktu yang sama pemaksaan itu dapat menghilangkan kedaulatan kaum muslimin untuk mengatur negeri sendiri berdasarkan hukum Syariah Islam.
Allah SWT berfirman :
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً
“Dan sekali-kali Allah tidak akan menjadikan suatu jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.” (QS An Nisaa` : 141).
Ketiga, karena konsep jaminan kesehatan nasional tersebut akan menimbulkan mudharat, yaitu semakin beratnya beban hidup masyarakat, akibat pemaksaan iuran bulanan yang akan diambil secara paksa oleh BPJS.
            Padahal Islam adalah ajaran yang mengharamkan segala bentuk mudharat, termasuk mudharat dalam bentuk iuran paksa yang menimbulkan beban tambahan atas rakyat yang sudah menderita selama ini.
            Sabda Rasulullah SAW :
لا ضرر ولا ضرار في الإسلام
Tidak boleh menimbulkan mudharat (bahaya) bagi diri sendiri dan juga mudharat (bahaya) bagi orang lain di dalam ajaran Islam.” (HR Ibnu Majah no 2340; Ahmad 1/133 & 5/326).
            Allah SWT juga sudah mengingatkan agar umat Islam selalu mewaspadai kaum kafir yang memang selalu ingin menimbulkan mudharat bagi kita umat Islam. Firman Allah SWT :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتْ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (kaum kafir), karena mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.” (QS Ali ‘Imran : 118).
Keempat, karena konsep jaminan kesehatan nasional tersebut bertentangan dengan Islam dalam hal peran negara. Konsep JKN adalah konsep kafir yang berusaha untuk menghilangkan peran dan tanggung jawab negara dalam mengurus rakyat, termasuk urusan jaminan kesehatan.
Sementara dalam ajaran Islam, negara mempunyai peran sentral dan sekaligus bertanggung jawab penuh dalam segala urusan rakyatnya, termasuk urusan kesehatan. Hal ini didasarkan pada dalil umum yang menjelaskan peran dan tanggung jawab seorang Imam / Khalifah (kepala negara Islam) untuk mengatur seluruh urusan rakyatnya. Sabda Rasulullah SAW :
فالأمير الذي على الناس راع، وهو مسئول عن رعيته
“Pemimpin yang mengatur urusan manusia (Imam/Khalifah) adalah bagaikan penggembala, dan dialah yang bertanggung jawab terhadap rakyatnya (gembalaannya).” (HR Bukhari no  4904 & 6719; Muslim no 1827).
Kelima, karena konsep jaminan kesehatan nasional tersebut bertentangan dengan jaminan kesehatan dalam Islam. Dalam JKN, jaminan kesehatan diperoleh oleh rakyat harus dengan membayar iuran yang dipaksakan (asuransi sosial).
Sedang dalam Islam, jaminan kesehatan diperoleh oleh rakyat dari pemerintah secara gratis (cuma-cuma), alias tidak membayar sama sekali.
Dalam ajaran Islam, negara wajib hukumnya menjamin kesehatan rakyatnya secara cuma-cuma, tanpa membebani rakyat untuk membayar. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan sebagai berikut :
عن جابر قال: بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أبي بن كعب طبيبا فقطع منه عرقا ثم كواه عليه
Dari Jabir RA, dia berkata,”Rasulullah SAW telah mengirim seorang dokter kepada Ubay bin Ka’ab (yang sedang sakit). Dokter itu memotong salah satu urat Ubay bin Ka’ab lalu melakukan kay (pengecosan dengan besi panas) pada urat itu.” (HR Muslim no 2207).
Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW sebagai kepala negara Islam telah menjamin kesehatan rakyatnya secara cuma-cuma, dengan cara mengirimkan dokter kepada rakyatnya yang sakit tanpa memungut biaya dari rakyatnya itu. (Taqiyuddin An Nabhani, Muqaddimah Ad-Dustur, 2/143).
Terdapat pula hadits lain dengan maksud yang sama, dalam Al Mustadrak ‘Ala As Shahihain karya Imam Al Hakim, sebagai berikut :
عن زيد بن أسلم عن أبيه قال مرضت في زمان عمر بن الخطاب مرضا شديدا فدعا لي عمر طبيبا فحماني حتى كنت أمص النواة من شدة الحمية
“Dari Zaid bin Aslam dari ayahnya, dia berkata,”Aku pernah sakit pada masa Umar bin Khaththab dengan sakit yang parah. Lalu Umar memanggil seorang dokter untukku, kemudian dokter itu menyuruhku diet (memantang memakan yang membahayakan) hingga aku harus menghisap biji kurma karena saking kerasnya diet itu.” (HR Al Hakim, dalam Al Mustadrak, Juz 4 no 7464).
Hadits ini juga menunjukkan, bahwa Umar selaku Khalifah (kepala negara Islam) telah menjamin kesehatan rakyatnya secara gratis, dengan cara mengirimkan dokter kepada rakyatnya yang sakit tanpa meminta sedikitpun imbalan dari rakyatnya. (Taqiyuddin An Nabhani, Muqaddimah Ad-Dustur, 2/143).
Kedua hadits di atas merupakan dalil syariah yang shahih, bahwa dalam Islam jaminan kesehatan itu wajib hukumnya diberikan oleh negara kepada rakyatnya secara gratis, tanpa membebani apalagi memaksa rakyat mengeluarkan uang untuk mendapat layanan kesehatan dari negara.
Namun hal ini tak berarti bahwa jasa dokter swasta atau membeli obat dari apotek swasta hukumnya haram. Karena yang diperoleh secara gratis adalah layanan kesehatan dari negara. Adapun jika layanan kesehatan itu dari swasta (bukan pemerintah), misalnya dari dokter praktek swasta atau membeli obat dari apotik umum (bukan apotek pemerintah), maka hukumnya tetap boleh membayar jasa dokter atau membeli obat dari apotek swasta tersebut. Hal ini didasarkan pada dalil umum bolehnya berobat dengan membayar dan dalil umum bolehnya jual beli. (Taqiyuddin An Nabhani, Muqaddimah Ad-Dustur, 2/143).
Berdasarkan 5 (lima) alasan keharaman di atas, haram hukumnya pemerintah menyelenggarakan jaminan kesehatan nasional berdasarkan UU No 40 Tahun 2004 Tentang SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) dan UU No 24 Tahun 2011 tentang BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). DPR dan pemerintah yang bersekongkol secara jahat melegislasi kedua UU tersebut, kelak pada Hari Kiamat akan ditanya oleh Allah SWT di Padang Mahsyar, mengapa mereka membuat peraturan yang sedemikian zalim dan sangat memberatkan rakyat.
Maka dari itu, sudah saatnya seluruh rakyat Indonesia menolak penerapan kedua UU yang zalim tersebut. Karena kedua UU jelas-jelas tidak makin menyejahterakan dan mempermudah kehidupan rakyat, tapi malah semakin memperberat dan mempersulit hidup masyarakat yang sudah sulit.
Inilah akibatnya kalau ditengah umat Islam diterapkan peraturan kufur yang berasal dari kapitalisme Barat, khususnya neoliberalisme dalam bidang layanan kesehatan.
Peraturan kufur itu wajib dilawan dan dihancurkan hingga tidak berlaku lagi, lalu diganti dengan peraturan Syariah Islam yang berkah dan diridhoi Allah, termasuk Syariah Islam dalam bidang layanan kesehatan. Dan penerapan Syariah Islam ini tentunya tidak mungkin terwujud secara sempurna dalam sistem demokrasi-kapitalis yang kufur saat ini. Sistem yang dapat menerapkannya hanyalah negara Khilafah Islam saja, bukan yang lain. Sistem Khilafah inilah yang wajib kita ikuti dan kita tegakkan, karena itulah yang dulu dicontohkan oleh Rasululah SAW dan para Khulafa`ur Rasyidin yang mendapat petunjuk Allah. Ya Allah, kami sudah menyampaikan, saksikanlah ! Wallahu a’lam.
= = =
*Makalah disampaikan dalam Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh DPC HTI Sewon DIY, hari Ahad, 22 Desember 2013, di masjid Al-Muhtar ISI (Institut Seni Indonesia), Yogyakarta.
**DPP HTI (Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia).
Download :
1. File Powerpoint tentang FAKTA BPJS oleh Ust. Abu Hanif (196KB)
2. File Powerpoint Hukum BPJS oleh KH.M.Shiddiq Al Jawi (1MB)
2. Makalah format Docx oleh K.H. M. Shiddiq Al Jawi (29KB)
upload 2
copas by Ceramah Ideologis

Kesehatan Di Era Khilafah: Pelayanan Berkualitas dan Gratis

 

Kesehatan dalam Islam

Pandangan Islam tentang kesehatan jauh melampaui pandangan dari peradaban manapun. Islam telah menyandingkan kesehatan dengan keimanan, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Mintalah oleh kalian kepada Allah ampunan dan kesehatan. Sesungguhnya setelah nikmat keimanan, tak ada nikmat yang lebih baik yang diberikan kepada seseorang selain nikmat sehat.” (HR Hakim).

Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya, “Orang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan disukai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR Muslim).

Dalam Islam, kesehatan juga dipandang sebagai kebutuhan pokok publik, Muslim maupun non-Muslim. Karena itu, Islam telah meletakkan dinding yang tebal antara kesehatan dan kapitalisasi serta eksploitasi kesehatan. Dalam Islam, negara (Khilafah) bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan semua warga negara. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia laksana penggembala. Hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Tugas ini tidak boleh dilalaikan negara sedikitpun karena akan mengakibatkan kemadaratan, yang tentu diharamkan dalam Islam.

Rasulullah saw.: Peletak Fondasi Yang Kokoh

Pandangan Islam yang tinggi terhadap kesehatan itu sesungguhnya bagian integral dari totalitas sistem kehidupan Islam. Sistem ini didesain Allah SWT secara unik untuk diterapkan pada institusi politik yang Dia desain secara unik pula, yakni Khilafah.

Rasulullah saw. telah membangun fondasi yang kokoh bagi perterwujudan upaya preventif-promotif dan kuratif. Ini terjadi saat syariah Islam turun secara sempurna dan diterapkan secara sempurna pula. Upaya preventif seperti mewujudkan pola emosi yang sehat, pola makan yang sehat, pola aktivitas yang sehat, kebersihan, lingkungan yang sehat, perilaku seks yang sehat serta epidemi yang terkarantina dan tercegah dengan baik tak lain adalah buah manis yang niscaya dapat dinikmati saat syariah Islam diterapkan secara kaffah.

Keberhasilan Rasulullah saw. melakukan upaya preventif-promotif direfleksikan oleh sebuah peristiwa yang terukir indah dalam catatan sejarah, yaitu saat dokter yang dikirim Kaisar Romawi selama setahun berpraktik di Madinah kesulitan menemukan orang yang sakit.

Kesehatan Gratis untuk Semua

Upaya kuratif direalisasikan di atas prinsip-prinsip etik kedokteran yang tinggi. Ini menjadi faktor penting agar setiap pasien memperoleh pelayanan penuh, rasa aman, nyaman, dipelihara jiwa dan kehormatannya sebagai sebaik-baiknya makhluk ciptaan Allah SWT. Di antara prinsip etik kedokteran tersebut adalah larangan menggunakan metode pengobatan yang membahayakan akidah, martabat, jiwa dan fisik pasien; izin praktik hanya diberikan kepada dokter yang memiliki kompetensi keilmuan kedokteran dan berakhlak mulia; obat dan bahan obat hanyalah yang halal dan baik saja; larangan menggunakan lambang-lambang yang mengandung unsur kemusyrikan dan kekufuran.

Layanan kesehatan berkualitas dijamin ketersediaannya. Semunya digratiskan oleh negara bagi seluruh warga negara yang membutuhkannya, tanpa membedakan ras, warna kulit, status sosial dan agama, dengan pembiayaan bersumber dari Baitul Mal. Hal ini terlihat dari apa yang dilakukan Rasulullah saw. kepada delapan orang dari Urainah yang menderita gangguan limpa. Saat itu mereka datang ke Madinah untuk menyatakan keislamannya. Mereka dirawat di kawasan pengembalaan ternak kepunyaan Baitul Mal, di Dzil Jildr arah Quba’. Selama dirawat mereka diberi susu dari peternakan milik Baitul Mal. Demikian pula yang terlihat dari tindakan Khalifah Umar bin al-Khaththab. Beliau mengalokasikan anggaran dari Baitul Mal untuk mengatasi wabah penyakit Lepra di Syam.

Banyak institusi layanan kesehatan yang didirikan selama masa Kekhilafan Islam agar kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan gratis terpenuhi. Di antaranya adalah rumah sakit di Kairo yang didirikan pada tahun 1248 M oleh Khalifah al-Mansyur, dengan kapasitas 8000 tempat tidur, dilengkapi dengan masjid untuk pasien dan chapel untuk pasien Kristen. Rumah sakit dilengkapi dengan musik terapi untuk pasien yang menderita gangguan jiwa. Setiap hari melayani 4000 pasien. Layanan diberikan tanpa membedakan ras, warna kulit dan agama pasien; tampa batas waktu sampai pasien benar-benar sembuh. Selain memperoleh perawatan, obat dan makanan gratis tetapi berkualitas, para pasien juga diberi pakaian dan uang saku yang cukup selama perawatan. Hal ini berlangsung selama 7 abad. Sekarang rumah sakit ini digunakan untuk opthalmology dan diberi nama Rumah Sakit Qolawun.

Kualitas layanan kesehatan yang persis sama juga diberikan oleh Rumah Sakit an-Nur yang didirikan pada masa Khalifah Bani Umayyah, al-Walid, tahun 706 M, di Damaskus. Rumah sakit ini menjalankan fungsinya selama 8 abad dan masih ditemukan sisa kejayaannya saat ini. Lembaga pendidikan kedokterannya berkualitas terbaik.

Pada masa Nizhamul Muluk, di Kota Ray didirikan rumah sakit bersalin terbesar untuk seluruh Persia, selain didirikan sekolah tinggi ilmu kebidanan. Para bidan desa mendapat pembinaan 2 hari dalam sepekan oleh dokter-dokter ahli kandungan. Dokter ahli kandungan yang terkenal antara lain Az-Zahrawi, Abu Raihan Albairuni (374 H) dan Bahrum Tajul Amin (380 H). Kedua sarana ini dibangun atas perintah Khalifah Harun al-Rasyid kepada al-Masawaih, dokter yang menjabat menteri kesehatan.

Negara tidak luput melaksanakan tanggung jawabnya kepada orang-orang yang mempunyai kondisi sosial khusus, seperti yang tinggal di tempat-tempat yang belum mempunyai rumah sakit, para tahanan, orang cacat dan para musafir. Untuk itu negara mendirikan rumah sakit keliling tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Ini seperti pada masa Sultan Mahmud (511-525 H). Rumah sakit keliling ini dilengkapi dengan alat-alat terapi kedokteran, dengan sejumlah dokter. Rumah sakit ini menelusuri pelosok-pelosok negara.

Gratis dan Berkualitas

Tingginya kualitas layanan kesehatan gratis yang disediakan negara terlihat dari standar layanan yang diterapkan rumah sakit pemerintah. Tenaga medis yang diterima bertugas di rumah sakit, misalnya, hanyalah yang lulus pendidikan kedokteran dan mampu bekerja penuh untuk dua fungsi rumah sakit: menyehatkan pasien berdasarkan tindakan kedokteran yang terbaharui (teruji); memberikan pendidikan kedokteran bagi calon dokter untuk menjadi para dokter yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pengobatan pasien. Hal ini terlihat dari tes yang dilakukan Adhud ad-Dawla terhadap seratus orang dokter calon tenaga medis di Al-‘Adhudi Bimaristan (rumah sakit). Yang lulus akhirnya 24 dokter saja.

Lokasi rumah sakit harus yang terbaik untuk kesehatan, seperti di atas bukit, atau di pinggir sungai. Bimaristan al-‘Adhudi (rumah sakit umum), misalnya, didirikan Adhud ad-Dawla pada tahun 371H/981 M, di pinggir Sungai. Air sungai mengalir melalui halaman gedung rumah sakit yang dikelilingi tembok dan ruangan-ruangan yang luas dan kembali ke mengalir ke Tigris. Lokasi ini dipilih Khalifah Harun ar-Rasyid berdasarkan arahan ahli kedokteran ar-Razi.

Rumah Sakit Marakesh (Ibukota Maroko), didirikan pada masa al-Mansyur Ya’qub Ibn-Yusuf, tahun 1190 M, merupakan rumah sakit yang cantik sekali, dengan tata taman yang sangat indah, dilengkapi aneka pohon buah-buahan, aneka bunga-bungaan, tiga telaga buatan dengan air yang mengalir ke semua terowongan.

Bangunan rumah sakit pasien wanita terpisah dari bangunan rumah sakit pasien pria. Masing-masing bangunan mempunyai ruangan-ruangan yang luas untuk pasien. Dokter perempuan bekerja di bagian rumah sakit pasien perempuan. Dokter pria bekerja di bagian rumah sakit pasien pria.

Ada ruangan perawatan khusus untuk anak-anak dan bayi, ruangan untuk pemeriksaan kandungan dan melahirkan. Ruangan juga dibagi berdasarkan jenis penyakit, seperti penyakit dalam, trauma dan fraktur dan penyakit menular. Pada masing-masing bagian bertugas seorang atau lebih dokter dan masing-masing tim dokter ini diketuai seorang dokter kepala. Semua dokter di rumah sakit dikepalai seorang dokter yang disebut “Al-Saur”. Para dokter ini ditugaskan secara bergiliran, pagi dan malam hari, agar mempunyai waktu istirahat yang cukup.

Semua ruangan dilengkapi dengan peralatan kedokteran dan peralatan yang dibutuhkan dokter. Rumah sakit juga dilengkapi perpustakaan yang menyediakan buku-buku kedokteran, seperti farmakologi, anatomi, fisiologi, hukum kedokteran dan berbagai ilmu lain yang terkait dengan kedokteran. Contoh rumah perpustakaan terbesar adalah perpustakaan Rumah Sakit Ibnu Tulun di Kairo, yang mengkoleksi 100.000 buku. Rumah sakit itu dilengkapi pula dengan laboratorium dan apotik yang memberikan obat berdasarkan resep dokter. Terdapat pula dapur dan berbagai ruangan lain yang dibutuhkan untuk pelayanan yang optimal. Sejumlah karyawan rumah sakit bekerja sebagai pekerja kesehatan, asisten atau dresser, servents, cleaning cervice, pembantu pasien.

Masing-masing pasien memiliki kartu rekam medik, yang berisi catatan observasi dokter, tindakan yang dilakukan dokter. Jika dokter mengalami masalah, seperti untuk penegakkan diagnosis, dia harus berkonsultasi dengan kepala bagian atau dokter kepala. Para dokter mengadakan pertemuan sesering mungkin untuk mendiskusi kasus-kasus yang dihadapi. Tidak diragukan lagi, forum ini seperti mini konfrensi ilmiah kedokteran yang dilakukan saat ini.

Sebagai rumah sakit yang berfungsi pula sebagai tempat pendidikan kedokteran, di rumah sakit-rumah sakit terdapat sejumlah dokter spesialis dan profesor yang biasa di pagi hari memeriksa kasus, bersama dengan para mahasiswa kedokteran tingkat awal. Para dokter spesialis dan profesor ini mengajar para mahasiswa, melakukan pencatatan dan membuat resep, ketika telah terbiasa mengobservasi dan belajar. Kemudian profesor tersebut biasanya menuju aula besar, di sekelilinginya duduk para mahasiswa kedokteran, ia membacakan isi buku kedokteran dan menjelaskannya, serta menjawab pertanyaan para mahasiswa. Biasanya dilakukan tes di akhir perkualiahan. Mahasiswa diberi izin untuk bekerja pada bagian spesialis mereka. Hal ini, selain bagian dari proses pendidikan, juga pencegah para mahasiswa menjadikan pasien sebagai kelinci percobaan.

Kembali pada fungsi rumah sakit sebagai tempat layanan kesehatan, kontrol terhadap mutu pelayanan dilakukan secara ketat. Tim ahli yang diangkat Khalifah yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan layanan rumah sakit. Tim ini mengevaluasi, antara lain, isi catatan rekam medik pasien, pelayanan yang diperoleh pasien, makanan yang diberikan kepada pasien, apakah para dokter melaksanakan tugasnya secara sempurna. Dengan begitu rumah sakit selalu dalam kompetensi yang tinggi secara teknis, scientifically dan administratively.

Demikianlah sebagian permata indah yang tersimpan dalam catatan sejarah peradaban emas Khilafah di bidang kesehatan, yang tak tertandingi oleh peradapan manapun. Sungguh, dunia sangat merindukan kembali hadirnya keindahan permata itu di tengah-tengah kehidupan yang nyata. Allahu a’lam. []

Daftar Rujukan

Al-Maliki. Politik Ekonomi Islam. Al-Izzah. Bogor. 2008?

Deuraseh, N. The Book of Medicine (Kitab ath-Thibb) of Sahihal-Bukhari Prevention of Illness and Preservation of Health Perspectives. Part Two.Journal of the Bahrain Medical Society. Vol 20. No 2. April 2008.

Rini, Susrini, R., Waraharini, P. Sehat Seutuhnya Untuk Semua. ForMi-t. Jakarta. 2008.

Al-Ghazal, S. Medical Ethics in Islamic History at a Glance. JISHIM, 3. 2004.

Yamani, J. K. Kedokteran Islam dari Masa ke Masa. Dzikra. Bandung. 2002….

Al Badri, A. A. Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam. GIP. 1990

Al-Ghazali, Sharif Kaf. The Origin of Bimaristans (hospitals) in Islamic Medical History,” http://www.islamicmedicine.or/bimaristan.htm.

Ragheb, E. “Hospital in Islamic Civilization,” http://en.islamstory.com/hospital-in-islamic-civilization.html.

Al-Faruqi, I dan Al-Faruqi, L. Atlas Budaya: Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang. Mizan. Bandung. 1998.

Ibn Abi Usaibi’ah, Uyun al-Anba, PP. 415 dalam Al-Ghazali, Sharif Kaf. “The Origin of bimaristans (hospitals) in Islamic medical history,” http://www.islamicmedicine.or/bimaristan.htm.

AL-WA’IE edisi JUNI 2011

https://www.facebook.com/notes/hidup-sejahtera-di-bawah-naungan-khilafah/kesehatan-di-era-khilafah-pelayanan-berkualitas-dan-gratis/182896378435572

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.