Potensi Anak


Potensi Kecerdasan Anak :

Setiap orang tua terhadap anak-anak mereka menghendaki setiap anaknya dapat
menampilkan kemampuan dan kepandaian yang diinginkan, proses pengarahan
perilaku yang alamiah ini dilakukan secara terus menerus yang akhirnya
menentukan orientasi mental pada anak.

Mengapa peran orang tua tersebut dikatakan sebagai pengarahan perilaku yang
alamiah, hal itu dapat ditelaah berdasarkan tahap perkembangan manusia pada
masa kanak-kanak dimulai sejak 0 (nol) tahun seorang anak telah melakukan
proses interaksi dengan lingkungan dan individu di luar dirinya, menurut
John Bowlby dan Konrad Lorenz pada periode sensitif ini pola kecerdasan yang
dikembangkan si bayi adalah proses tanggap tiru (imprinting) terhadap
perilaku orang tua (Kathy Silva et.al, Perkembangan Anak; Sebuah Pengantar,
Arcan, Jakarta, 1988, hal. 33 & 40). Bagi si bayi hal ini digunakan untuk
membentuk pertalian (disebut dengan kelekatan) dengan orang tua.

Kelekatan ini menciptakan keadaan aman secara psikologis bagi si bayi yang
penting baginya untuk terus mengembangkan tingkat kecerdasan baru dengan
teknik respon yang lebih kompleks.

Perkembangan kompleksitas respon (baca : cara berpikir logis) seseorang
menurut Jean Piaget berkembang secara bertahap berdasarkan usia, usia 0 s/d
2 tahun disebut periode sensori-motor, usia 2 s/d 7 periode pra-operasional
dan usia 7 dan seterusnya adalah periode operasional yang dibagai pula
menjadi periode operasi konkret (usia 7 s/d 11 tahun) dan periode operasi
formal (usia 11 tahun ke atas). Pembagian ini menunjukkan bahwa Piaget dalam
pendapatnya cenderung menyatakan anak-anak tidak seperti bejana yang
menunggu untuk diisi penuh dengan pengetahuan malah mereka secara aktif
membangun pemahaman mereka akan dunia dengan cara berinteraksi dengan dunia
(Kathy Silva et.al, Perkembangan Anak; Sebuah Pengantar, Arcan, Jakarta,
1988, hal. 114 s/d 140), sehingganya pada setiap perkembangan seorang anak
mampu melakukan berbagai jenis interaksi yang berbeda dan sampai pada
pemahaman yang berberbeda pula.

Keadaan berkembang inilah yang harus disikapi dengan cermat mengingat di
sana terdapat potensi intrinsik (sekumpulan keadaan kejiwaan dan mental yang
masih dini) sebagai landasan suatu kecerdasan (raw material) yang harus
difasilitas dan dijaga jangan sampai terkerdilkan oleh imbas lingkungan
eksternal si anak termasuk peran orang tua dan keluarga terdekat,
sebagaimana yang sering terjadi dimana potensi kecerdasan anak dikerdilkan
lantaran orang tua (keluarga) terlebih dahulu mensyaratkan penyaringan atau
pemilahan informasi serta determinasi respon atau pola tindak yang mungkin
keluar dalam wujud tingkah laku. Biasanya pengkerdilan ini dilakukan orang
tua – keluarga dan tidak menutup kemungkinan masyarakat – dengan pendekatan
otoritatif melalui paradigma bahwa anak musti tumbuh sebagaimana
(nilai-nilai) orang tua mereka inginkan, sehingga bagaimana anak itu nanti
sangat tergantung sekali kepada proses identifikasi domestik selama dalam
asuhan tanpa memaparkan identitas alternatif  yang lahir dalam diri si anak
secara alamiah.Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika output yang
dihasilkan berada pada dua poros bersebrangan yang pertama, ia tumbuh
menjadi seorang yang tidak kreatif dan kedua, tumbuh dalam pemberontakan
identitas lama. Kelompok yang pertama sering disimbolkan  sebagai anak yang
baik dan penurut kepada orang tua namun sementara itu mereka terkendala
dalam kehidupan sosialnya (canggung secara sosial), pada kelompok kedua
simbol sosial yang dilekatkan kepada mereka adalah sebagai anak-anak
(remaja) yang nakal, tidak penurut, anti kemapanan dan urakan, mereka ini
cenderung memiliki kemapuan sosial yang tinggi, kreatif dalam
mengekspresikan diri dan senang bereksprerimen dengan nilai serta identitas
baru. Bagi mereka asal bukan nilai dan identitas permanen yang ada dalam
keluarga kesanalah kecenderungan pilihannya

Periode sensori – motor ( usia 0 s/d 2 tahun)

Pada awal masa perkembangannya seorang anak dalam hal ini bayi melakukan
proses nalar pada tahapnya yang paling primitif yaitu proses mengenal benda
melalui respon yang tetap pada benda tersebut seperti contoh bayi mengenal
botol susu bukan dalam arti ia mengenali nama benda tersebut, tetapi ia
mengenalinya dalam arti memberikan respon yang konstan pada benda itu dengan
jalan menghisap. Dalam hal ini Piaget mengatakan bahwa si bayi mempunyai
kategori fungsional sederhana, yang berarti ia mempunyai kategori kasar
mengenai segala sesuatu yang ia beri reaksi dengan cara yang sama (Kathy
Silva et.al, Perkembangan Anak; Sebuah Pengantar, Arcan, Jakarta, 1988, hal.
114 s/d 140).

Dengan kata lain pada periode ini bayi membangun gambaran permanen mengenai
dunia melalui gabungan sensasi dan gerak, hal ini terus berlanjut sampai
pada usia 2 tahun dimana ia memiliki perbendaharaan efektif dari skema
terkoordinasi untuk masuk ke dalam tingkatan praktis yang lahir dari
pembelajarannya mengenai objek, waktu, ruang dan sebab-akibat.

Periode pra-operasional (usia 2 s/d 7 tahun)

Fase ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan liguistik anak dimana
seorang mulai dapat mengucapkan kata-kata dan mulai berbicara. Skema mental
awal yang telah terkoordinasi mengenai apa saja lingkungan eksternalnya
ditransformasikan menjadi skema simbolik berupa bahasa. Menurut Piaget cara
berpikir anak pada periode pra-operasional bercirikan animisme, egosentrisme
dan realisme moral.

Ciri tersebut saling berhubungan satu sama lain kendati nampaknya terpisah
namun sebenarnya mirip satu dengan yang lain dimana memperlihatkan
ketidakmampuan untuk menghadapi beberapa aspek dari suatu situasi sekaligus
dengan kata lain anak dalam periode ini hanya memandang segala sesuatu dari
perspektif dirinya saja. Adapun rumusan Piget mengenai animisme adalah
ketidakmampuan anak untuk menerapkan suatu pendirian terhadap objek tak
bernyawa dan pendirian yang lain terhadap dirinya sendiri, sama halnya
dengan realisme moral yang merupakan konsekuensi dari memandang moralitas
dari satu sisi saja yang menunjukkan bahwa tujuan tindakan tidaklah
diperhitungkan sebagai faktor yang peran terhadap rasa bersalah dan
perhatian difokuskan pada realitas akibat fisik dari suatu tindakan – si
anak tidak dapat mempertimbangkan tujuan dan kerusakan (akibat tindakan)
secara bersamaan. Dan egosentrisme merupakan konsekuensi dari hanya
diperhatikannya satu perspektif oleh si anak.

Periode operasional

a.      Periode operasi konkret (usia 7 s/d 11 tahun)

Periode ini merupakan periode penting perkembangan skema intelektual anak
dimana kemampuan berpikir logis dan matematis mulai berkembang. Dimulai
sejak pertama perkembangan struktur mental awal (disebut skema) yang
mendasari kemampuan sensorik dan motorik bayi, kemudian perkembangan
kemampuan bahasa memungkinkan seorang anak menghadirkan pengetahuannya
secara simbolis dan memahami gagasan mengenai hari kemarin dan esok
selanjutnya kemampuan meningkat kepada yang lebih canggih yang
mengetengahkan pikiran-pikiran logis yang sehari-hari digunakan.

Peningkatan kemampuan anak pada periode operasi konkret ini dapat diamati
dimana anak pertama, memiliki kemampuan dalam menjalankan operasi mental
reversibilitas (pembalikan) yaitu terhadap suatu aktifitas anak dapat
berfikir dan melakukan aktifitas yang sama dengan prosedur yang dibalik atau
berlawanan. Kedua, anak dapat menangani beberapa aspek dari suatu situasi
sekaligus, keterampilan kedua ini memungkinkan anak untuk mengamati suatu
objek dari sudut pandang orang lain dalam artian anak tidak lagi berpatokan
pada satu perspektifnya saja akan tetapi dapat melihat (mengamati) secara
lebih menyeluruh – dan dengan demikian mengatasi egosentrisme anak.

Kesimpulannya anak pada periode ini berpikir dengan bercirikan tindakan
mental yang memperhitungkan beberapa aspek dari suatu situasi serta keluar
dari dirinya sendiri.

b.      Periode operasi formal (usia 11 tahun keatas)

Periode ini dimana anak telah tumbuh menjadi remaja dan dewasa dimana
perkembangan pikiran logis dan matematis mendapatkan tempat dan wujudnya
yang formal.

Berdasarkan teori perkembangan cara berpikir anak yang disampaikan oleh
Piaget dapat dikatakan menerangkan potensi intrinsik seseorang yang
berkembang dari wujudnya yang paling primitif hingga memperoleh bentuk
penalaran logis dan matematis. Akan lebih menarik lagi untuk dilihat dan
ditelaah bagaimana seseorang atau seorang anak melakukan proses
pembelajaran.

Bagaimana Anak-anak Belajar ?

Belajar merupakan proses penerimaan, pengelolaan, internalisasi dan aplikasi
setiap informasi yang diterima seseorang melalui pengindraan (auditory,
visual dan kinesthetic), proses logika (analisa) dan percobaan atau
pengalaman, yang mana pada akhirnya membimbing seseorang melakukan
penyesuaian perilaku atau berprilaku sesuai dengan pengetahuan yang
didapatnya. Pembelajaran atau proses belajar setiap individu bersumber dari
segala sesuatu yang ada mulai dari lingkungan alam, lingkungan sosial,
lingkungan budaya, media cetak dan eletronik, realita, barang-barang ciptaan
(produk artifisial). Secara garis besar dibedakan menjadi dua kelompok,
yaitu ; sumber belajar tangan pertama (menunjukan otentisitas dan
orisinalitas) dan sumber belajar tangan kedua dimana materi ajar telah
melalui pengolahan (Yunanto, Sri Joko, Sumber Belajar Anak Cerdas, Grasindo,
Jakarta, 2004, hal 20 s/d 46) . Bagi setiap individu proses penyesuaian
perilaku sejak masa awal kehidupannya amatlah penting untuk hidup itu
sendiri. Penyesuaian perilaku itulah dalam wujud ekstrinsiknya berupa
kecakapan-kecakapan hidup (life skill) yang lahir sebagai output dari
sinergi potensi intriksik berupa kecerdasan (intelegensia) dan faktor
lingkungan eksternal.

Sejak masa awal kehidupannya manusia telah melakukan pembelajaran sedemikian
rupa dalam bentuknya yang paling sederhana yaitu pembelajaran penyesuaian
perilaku, menurut para ahli pembelajaran pada masa kecil (masa pra sekolah)
terdiri dari ; pembelajaran instrumental dan pembelajaran behavioral.
Sedangkan secara teoritis pembelajaran penemuan (discovery learning) dan
pembelajaran berprogram (programmed learning) tumbuh pada masa sekolah.

Pembelajaran instrumental menurut Skinner merupakan pembelajaran yang
didorong oleh lingkungan luar yang bersifat pengukuhan dan penghukuman
apabila si anak menunjukkan perilaku tertentu. Seperti contoh jika seorang
anak belajar makan dengan menggunakan sendok dan membersihkan tempat tidur
mereka karena pengukuhan dari orang tua seperti senyuman, pelukan dan
gula-gula. Sama halnya ketika mereka berhenti melemparkan makan mereka ke
lantai karena ibu memberikan hukum dengan menepuk kakinya.

Dalam tahap pembelajar instrumental ini peran lingkungan menjadi penting dan
bahkan menjadi titik fokus output perilaku yang timbul kemudian pada anak –
orang tua, saudara dan guru bertindak sebagai faktor determinan bagi si
anak.

Albert Bandura dengan teori pembelajaran observasionalnya mengemukakan
proses belajar melalui model prilaku yang dirangsangkan pada anak sebagai
contoh perilaku. Kuatnya pembelajaran peniruan (imitasi) ini dapat segera
dibuktikan ketika di rumah peran orang tua diamati anak-anak mereka dan
memberikan referensi perilaku bagi mereka yang segera mereka tiru, misalnya
ayah yang agresif mungkin berhasil menjadi model perilaku yang mirip pada
anaknya atau sama halnya dengan peran guru di taman kanak-kanak dimana guru
menjadi model yang sangat bermakna untuk pembelajaran observasional selama
aktivitas bermain.

Proses peniruan tersebut akan terkukuhkan dan lebih efektif pada saat-saat
orang tua dan guru menerapkan hukuman dan pujian bagi perilaku-perilaku yang
sesuai ataupun tidak sesuai dengan kecenderungan yang diinginkan orang tua
dan guru. Peran dan pengaruh orang tua dan guru menjadi penting bagi anak
sebab mereka merupakan gerbang yang akan mengatarkan mereka kepada kehidupan
sosial, selain itu proses imitatif juga terpapar selama anak-anak berada
dalam kelompok sebayanya dalam hal ini tentu saja peran kolektif yang
dimainkan bersama-sama seolah-olah merupakan hasil sintesa berbagai perilaku
awal yang orisinal dimana setelah terjadi interaksi, komunikasi sosial dan
transaksi perilaku masing-masing anak memperoleh referensi perilaku baru.

Potensi Kecerdasan Anak

Seorang individu dikatakan memiliki mutu atau kualitas Sumber Daya Manusia
yang unggul diukur dari bagaimanakah kemampuannya dalam mengatasi tantangan
dan permasalahannya dengan mengunakan totalitas perangkat fisik, mental dan
spiritual yang sedianya terdapat dalam diri semua orang. Kemampuan untuk
mendayagunakan segenap potensi tersebutlah yang lazim dikenal sebagai suatu
kecerdasan.

“Manusia dikaruniai kecerdasan yang berbeda-beda satu dengan yang lain agar
bisa saling bekerja sama dan melengkapi”.

Anita Lie.

Howard Gardner menyimpulkan bahwa manusia memiliki berbagai macam kecerdasan
(Multiple Intelegent) antara lain; kecerdasan musical, bodily, visual
spatial, logical,verbal, intrapersonal dan interpersonal. Bahkan belakangan
ini konsep kecerdasan yang dimiliki manusia dikembangkan lagi ke dalam
bentuk kecerdasan Emosional dan Spiritual (Gardner, Howard., Multiple
Intelegences, Interaksara , Jakarta, 2003).

Kecerdasan musikal, merupakan kecerdasan yang paling awal tumbuh dalam diri
manusia, detak jantung, denyut nadi suara pencernaan dalam rahim ibu
merupakan materi awal yang diterima seorang anak dalam menumbuhkan
kecerdasan musikalnya. Kecerdasan musikal mempunyai pengaruh yang sangat
besar pada perasaan manusia.

Kecerdasan gerak tubuh (bodily), kecerdasan ini memungkinkan koordinasi
antara otak dan tubuh manusia. Manfaat optimalisasi kecerdasan ini dirasakan
seseorang tidak hanya dalam menunjag aktivitas sehari-hari akan tetapi
seseorang dapat menghasilkan keterampilan tubuh yang luar biasa seperti
contoh yang dilakukan oleh para atlet, penari, akrobator, yogist dan lain
sebagainya.

Kecerdasan visual spatial, kemampuan untuk memahami dan menguasasi relasi
benda dalam ruang serta visualisasi grafis dan manipulasi mental terhadap
benda-benda. Bagian penting dari kecerdasan ini adalah daya imajinasi dan
visualisasi.

Kecerdasan logikal, kecerdasan yang memungkinkan masnusia melakukan
perhitungan, pengukuran, pemikiran induktif dan deduktif serta mengenali
pola-pola abstrak. Kecerdasan ini telah tumbauh dalam diri manusia sejak
dini pada proses perkembangan manusia sebab sejak awal seseorang melakukan
pengenalan bentuk dan pola kemudian berkembang dalam memahami pola=pola
pemikiran logis dan abstrak.

Kecerdasan liguistik, merupakan kemapuan seseorang untuk mengunakan sistem
bahasa dalam berkomunikasi yang mencakupi kemapuan mendengar, membaca,
menulis dan bercakap-cakap.

Kecerdasan intrapersonal, merupakan kemampuan untuk memahami diri sendiri
dengan mengamati diri dari luar diri. Kecerdasan intrapersonal membangun
kesadaran akan diri sendiri mengenai perasaan-perasaan, pemikiran-pemikiran
dan kecenderungan perilaku lainnya.

Kecerdasan interpersonal, adalah kemampuan seseorang untuk memahami
perasaan, suasana hati, keinginan dan temperamen orang lain. Kecerdasan ini
bermanfaat dalam rangka menciptakan suatu sinergi atau kerjasama dengan
orang lain.

Kecerdasan spiritual, merupakan kepekaan dan kemampuan untuk memahami
kebedaraan dirinya sendiri (eksistensi) dan relasinya dengan Sang Pencipta.
Pemahaman dan pemaknaan terhadap kehidupan, terhadap tujuan hidup, kebaikan
dan lain sebagainya merupakan bagian dari kecerdasan ini.

Kecerdasan emosional, tercakup dalam kecerdasan intrapersonal dan
interpersonal.

Dari berbagai bentuk kecerdasan tersebut di atas – untuk kepentingan
pelatihan Pengembangan Potensi Intelektual (POINT) Anak – disimpulkan ke
dalam 4 (empat) bentuk kecerdasan yaitu kecerdasan intelectual, Phisical,
Emotional dan Spiritual, sehingganya dalam rancangan Pelatihan Dasar 5
Kecakapan Siswa ini dimulai dari pendayagunaan perangkat (tools) kecerdasan
yaitu ; Tubuh (Body), Pikiran (Mind), Emosi (Emotion), dan Jiwa spiritual
(Soul), serta kecakapan sosial. Yang kemudian dikemas dengan konsep
pengajaran dan pembelajaran berbasis kompetensi dan berdasarkan kebutuhan
kelompok usia yang menjadi target pelatihan pembelajaran bertumpu pada
konsep pembelajaran penemuan (discovery learning) dan pembelajaran
berprogram (programmed learning). Kolaborasi kedua konsep tersebut
diharapkan memberikan optimalisasi hasil dari kegiatan belajar bagi peserta
dimana peserta dapat memperoleh informasi baru, mampu mengelola informasi
tersebut dan pada akhirnya menjadi ikhtisar pengetahuan dan ketrampilan baru
bagi peserta.

Adapun optimalisasi yang ingin dicapai berdiri dalam kerangka 5 macam
kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki, kelima kecakapan tersebut
adalah : learning how to think, learning how to do, learning how to be,
learning how to learn dan learning how to life together.

Learning how to think, merupakan kecakapan yang berkenaan dengan kemampuan
seseorang untuk berfikir dengan cara yang benar (cakap berfikir).

Learning how to do, kecakapan untuk berbuat atau bertindak. Kecakapan ini
memungkinkan seseorang bertindak secara proporsional pada saat dan tempat
yang tepat.

Learning how to be, merupakan kecakapan yang lahir dari kecerdasan
intrapersonal, dimana dalam memahami diri sendiri seseorang mampu
menempatkan diri dan berbuat dalam kehidupannya.

Learning how to learn, kemapuan seseorang untuk mempelajari, mengelola
informasi dan menyimpulkannya sehingga baginya dapat bermanfaat dalam
kehidupannya.

Learning how to life together, kecakapan untuk hidup bersama secara
berdampingan secara positif dan kemampuan bersinergi dalam kerjasama untuk
tujuan-tujuan produktif bagi dirinya.

Adapun kecakapan itu sendiri merupakan wujud ekstrinsik dari
kecerdasan seseorang, kecakapan dapat diamati sebagai perilaku yang positif
dan produktif (terlepas dari nilai-nilai). Artinya antara kecerdasan dan
kecakapan dapat dikatakan memiliki keterhubungan yang erat (kausalitas)
dimana yang satu sebagai sebab bagi dan manifestasi lahiriah yang lain –
kecakapan dilandasi oleh kecerdasan.

Strategi Pengembangan

Potensi kecerdasan yang dimiliki seseorang tumbuh dan berkembang
seiring pertumbuhannya sebagai manusia yang tidak lepas dari keterkaitan
faktor internal dan eksternal. Setiap orang dapat mengembangkan semua
kecerdasan sampai pada tingkat kemampuan yang mumpuni. Terkadang kita
cenderung mengatakan untuk seseorang tertentu dia memiliki kecerdasan yang
kuat dan untuk yang lain memiliki kecerdasan yang lemah. Pada dasarnya
potensi kecerdasan seseorang secara keseluruhan dapat dikembangkan sehingga
kecerdasan seseorang yang lemah dapat menjadi kuat asalkan diberi kesempatan
untuk dikembangkan.

Menurut Thomas Armstrong kecerdasan dapat berkembang atau tidak
tergantung pada tiga faktor penting, seperti ; faktor biologis, sejarah
hidup pribadi, latar belakang kultural dan historis. Secara biologis
termasuk di dalamnya faktor genetis, luka atau cidera pada otak sebelum,
selama atau setelah kelahiran. Sejarah hidup seseorang turut menentukan
dimana pengalaman – pengalaman yang pernah dialami memiliki pengaruh dalam
membangkitkan maupun menghambat perkembangan kecerdasan termasuk di dalamnya
pengalaman bersama orang tua, guru, teman sebaya, dan orang lain di
sekitarnya sedangkan latar belakang kultural dan historis mempengaruhi
berdasarkan sifat dan kondisi perkembangan waktu dan tempat yang spesifik.

Pengembangan kecerdasan seseorang juga tidak lepas dari faktor
pendorong (crystallizing experience) dan penghambat (paralyzing experience).
Faktor penghambat merupakan pengalaman yang mematikan kecerdasan, hal ini
dapat terjadi dimasa perkembangan dimana seseorang seringkali pada saat
mengungkapkan atau mengekspresikan kemampuannya acap kali direspon secara
negatif, proses afirmasi negatif ini secara serta merta mempengaruhi
mentalitas seseorang sehingga diterima sebagai suatu perasaan malu, rasa
bersalah, takut, kemarahan dan emosi negatif lainnya yang pada akhirnya
melembaga sebagai pengalaman yang melumpuhkan kecerdasan. Sementara itu
pengalaman yang mendorong (crystallizing experience) adalah titik balik
dalam perkembangan bakat dan kemampuan orang yang terjadi pada awal masa
kanak-kanak maupun sepanjang hidup. Dorongan dapat berupa berupa pengukuhan
dan apresiasi positif atas kemampuan yang dimiliki (Armstrong, Thomas,
Sekolah Para Juara, Kaifa, Jakarta, 2002, hal, 23 s/d 38).

Melihat berbagai faktor di atas sudah barang tentu konsep pengembangan
kecerdasan diterapkan dengan semaksimal mungkin dengan menyediakan ruang
kreasi yang luas kepada anak sembari memberikan pengukuhan sebagai suatu
bagian pembentukan afirmasi positif bagi anak untuk terus menyadari dan
mengelola potensi kecerdasannya.

Selanjutnya wadah pendidikan atau pengajaran seperti apakah yang
tepat untuk pengembangan kecerdasan dan kemampuan (skill) anak ?, sudah
barang tentu berbagai metode pendidikan telah dikembangkan akan tetapi
negara selaku penyelenggara sekaligus penanggungjawab pendidikan masih
begitu yakin dengan pedagogi verbal dengan pendekatan guru-sentris
tradisional, namun saat ini jalan yang mengarah pada pembaharuan proses
pendidikan terbuka dengan demikian luasnya sehingga berbagai macam
pembaharuan yang digagas para ilmuan menemukan momennya, ambil contoh apa
yang dikembangkan Maria Montessori dimana sistem pengajaran didasarkan pada
teknik-teknik mengalami langsung (experience) dengan memberdayakan kesemua
potensi bentuk kecerdasan anak dan materi-materi ajar pun disesuaikan dengan
tingkat laju belajar anak (self-paced material).

Dalam proses pendidikan dan pengajaran yang bertujuan untuk
mengembangkan seluruh potensi kecerdasan anak tidak harus menafikan metode
pedagogi verbal, ia tetap diperlukan sebagai fungsi instruktif yang akan
memfasilitasi peserta didik dalam artian peran seorang guru amat diperlukan
akan tetapi paradigmanya yang harus digeser dari guru-sentris menjadi
murid-sentris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s