Khilafah


MAKALAH

BENTUK NEGARA ISLAM VS NEGARA KUFUR

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Al-Islam

Disusun oleh :

Euis Mustika

Ida Rusmiati

Ria Risnawati

Rini Nuraeni

Siti Atiah

Yani Suryani

Vika Andika Safarida

EL RAHMA EDUCATION CENTRE

2009-2010

A. Pengertian Khilafah

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum musimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia. Sedangkan pengertian Khilafah menurut syariah digunakan untuk menyebut orang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. Kemuadian dalam perkembangan selanjutnya istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri.

B. Urgensi Penegakkan Khilafah Islamiyah

Kehidupan Islam secara nyata mulai ditegakkan Rasulullah SAW di Madinah semenjak Rasulullah dan para sahabatnya berhijrah dari Mekkah Al Mukarramah ke kota itu. Setelah beliau Rasulullah SAW berpulang keharibaan Allah SWT, kehidupan Islam pun ditegakkan oleh para sahabat di bawah pimpinan Khalifah Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khathab, Ustman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib. Tidak berhenti sampai disini, puluhan khulafa dari kalangan Umawiyyin, Abbasiyyin, dan Ustmaniyyin terus melanjutkan kehidupan Islam. Dan barulah berakhir sejak keruntuhan Daulah Khilafah Islamiyah yang berpusat di Turki,pada tanggal 3 Maret 1924 atau bertepatan 28 Rajab 1342 H, 86 tahun yang lalu. Setelah itu tidak ada lagi kehidupan Islam. Yang ada hanyalah kehidupan orang-orang Islam yang menerapkan aturan Islam sebagiannya saja dan meninggalkan sebagian yang lain.

Sejak runtuhnya paying dunia Islam itu, umat Islam di berbagai belahan dunia didera krisis yang seakan tidak ada habisnya. Wilayah Islam yang semula terbentang di seluruh jazirah Arab, Syam, Irak, Turki, semenanjung Balkan, sebagian Asia Tengah, Afrika bagian Utara, bahkan sebagian Eropa Barat, Asia Tenggara dan Selatan, terbelah-belah menjadi 50 kepingan wilayah yang dikuasai oleh penjajah. Jazirah Arab, wilayah syam, Irak, Asia Selatan dikuasai Inggris, Afrika bagian utara dikuasai Perancis, demikian halnya dengan wilayah lainnya. Kendati kemudian mulai tahun 40 – 50 hingga 60-an wilayah-wilayah itu satu per satu “merdeka” terbebas dari penjajahan, tapi pengaruh penjajah tetap saja bercokol di wilayah-wilayah itu dalam bentuk penjajahan gaya baru (ekonomi, social, politik, budaya, dan biologis) melalui para penguasa yang menjadi boneka (kaki tangan/agen asing). Kaum Muslim pun, akhirnya terpecah-pecah dibelenggu oleh batas territorial dan nasionalisme masing-masing.

Di dalam negeri, Indonesia kembali menjadi Negara miskin, beban hutang. Indonesia lebih dari Rp. 2100 trilyun, puluhan juta orang dalam kemiskinan, belasan juta orang kehilangan pekerjaan, 4,5 juta anak putus sekolah, jutaan orang mengalami malnutrisi, kriminalitas meningkat 400%, penghuni rumah sakit jiwa meningkat 300%. Padahal areal hutan paling luas di dunia, tanahnya subur, alamnya indah, potensi kekayaan laut luar bisaa (6,2 juta ton ikan, mutiara, minyak dan mineral lain), di darat terkandung barang tambang emas, nikel, timah, tembaga, batubara dsb, sementara gas dan minyak yang cukup besar.

Realitas demikian sungguh bertolak belakang 180 derajat dengan kondisi saat Daulah Khilafah Islamiyah tegak selama lebih dari 1000 tahun. Jelas, tanpa Daulah Khilafah Islamiyah kaum Muslim terpecah belah menjadi berbagai Negara, kekayaannya dikuras dan dibawa ke luar negeri, kezhaliman Negara-negara Barat Neo-imperialis tak mampu dilawan, hukum-hukum yang diterapkan nyata-nyata buatan manusia dan menyeret anak cucu Adam semakin jauh dari sifat fitri kemanusiaan, sementara hukum-hukum Islam teronggok di buku-buku dan hanya sekedar menjadi pengetahuan jauh dari penerapan. Ujungnya kaum Muslim terhalang untuk melaksanakan aturan-aturan Islam dalam setiap aspek kehidupan. Padahal untuk itulah sebenarnya manusia diciptakkan.

“Dan Aku tidak menciptakkan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (TQS. Adz Dzariyat [51] : 56)

Berdasarkan hal ini, jelaslah betapa urgen/ penting tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah.

C. Dalil kewajiban menegakkan hukum Islam dalam wadah Khilafah

“…. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengukuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu….”

(TQS. Al Maidah [5] : 48)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu….”

(TQS. Al Maidah [5] : 49)

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagumu.”

(TQS. Al Baqarah [2] : 208)

Rasulullah SAW bersabda :

“Dulu Bani Israil dipimpin atau diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, nabi lain menggantikannya. Namun, tidak ada nabi setelahku, dan yang akan ada adalah para khalifah, yang berjumlah banyak.”(HR al-Bukhari dan Muslim).

D. Khilafah vs Non-Khilafah

1. Khilafah bukan monarki (kerajaan)

Islam tidak mengakui sistem kerajaan. Hal itu karena dalam sistem kerajaan, seorang anak (putra mahkota) menjadi raja karena pewarisan. Umat tidak ada hubungannya dengan pengangkatan raja. Adapun dalam sistem Khilafah tidak ada pewarisan. Baiat dari umatlah yang menjadi metode untuk mengangkat khalifah. Sistem kerajaan juga memberikan keistimewaan dan hak-hak khusus kepada raja yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari individu rakyat. Hal itu menjadikan raja berada diatas undang-undang. Raja tetap tidak tersentuh hukum meskipun ia berbuat buruk atau zalim. Sebaliknya dalam sistem Khilafah, Khalifah tidak diberi keitimewaan yang menjadikannya berada diatas rakyat, sebagaiman seorang raja. Khalifah juga tidak diberi hak-hak khusus yang mengistimewakannya-dihadapan pengadilan-dari individu-individu umat. Khlaifah dipilih dan dibaiat oleh umat untuk menerapkan hukum-hukum syariah atas mereka. Khalifah terikat dengan hukum-hukum syariah dalam seluruh tindakkan. Kebijakan keputusan hukum, serta pengaturannya atas urusan-urusan dan kemaslahatan umat.

2. Khilafah buka kekaisaran (imperium)

Sistem imperium itu sangat jauh dari Islam. Sistem imperium tidak menyamakan pemerintahan si antara suku-suku di wilayah-wilayah dalam imperium. Sistem imperium memberikan keistimewaan kepada pemerintahan pusat imperium, baik dalam hal pemerintahan, harta maupun perekonomian.

Sebaliknya Islam menyamakan seluruh orang yang diperintah di seluruh wilayah Negara. Islam menolak berbagai sentimic primordial (‘ashabiyat al-jinsiyyah) Islam tidak menetapkan bagi seorang pun diantara rakyat di hadapan pengadilan-apapun mazhabnya sejumlah hak istimewa yang tidak diberikan kepada orang lain, meskipun ia seorang muslim.

Sistem pemerintahan Islam, dengan adanya kesetaraan ini, jelas berbeda dari imperium. Dengan sistem demikian, Islam tidak menjadikan berbagai wilayah kekuasaan dalam Negara sebagai wilayah jajahan. Bukan sebagai wilayah yang dieksploitasi, dan bukan sebagai “tambang” yang dikuras untuk kepentingan pusat saja. Islam menjadikan semua wilayah kekuasaan Negara sebagai satu kesatuan meskipun jaraknya saling berjauhan dan penduduknya berbeda-beda suku. Semua wilayah dianggap sebagai bagian integral satu tubuh Negara.

3. Khilafah bukan federasi

Dalam sistem federasi, wilayah-wilayah Negara terpisah satu sama lain dengan memiliki kemerdekaan sendiri, dan mereka dipersatukan dalam masalah pemerintahan (hukum) yang bersifat umum. Sebaliknya, Khilafah berbentuk kesatuan. Keuangan seluruh wilayah (propinsi) dianggap sebagai satu kesatuan dan APBN-nya juga satu, yang dibelanjakan untuk kemaslahatan seluruh rakyat tanpa memandang propinsinya. Seandainya suatu propinsi pemasukannya tidak mencukupi kebutuhannya,  maka propinsi itu dibiayai sesuai dengan kebutuhannya, bukan menurut pemasukannya. Seandainya pemasukan suatu propinsi tidak mencukupi kebutuhannya maka hal itu tidak diperhatikan, tetapi akan dikeluarkan biaya dari APBN sesuai dengan kebutuhan propinsi itu, baik pemasukannya mencukupi kebutuhannya ataupun tidak.

4. Khilafah bukan republik

Sistem republik pertama kali tumbuh sebagai reaksi praktis terhadap penindasan sistem kerajaan (monarki). Kedaulatan dan kekuasaan dipindahkan kepada rakyat dalam apa yang disebut dengan demokrasi. Rakyatlah yang kemudian membuat undang-undang, yang menetapkan halal dan haram, terpuji dan tercela. Lalu pemerintahan berada di tangan presiden dan para menterinya dalam sistem republik presidential dan di tangan kabinet dalam sistem republik parlementer.

Adapun dalam Islam, kewenangan untuk melakukan legislasi (menetapkan hukum) tidak ditangan rakyat, tetapi ada pada Allah. Tidak seorangpun selain Allah dibenarkan menentukkan halal dan haram. Dalam Islam, menjadikan kewenangan untuk membuat hukum berada di tangan manusia merupakan kejahatan besar. (lihat : QS at-Taubah [9] : 31).

Sistem pemerintahan Islam bukan sistem demokrasi menurut pengertian hakiki demokrasi ini, baik dari segi bahwa kekuasaan membuat hukum, menetapkan halal dan haram, terpuji dan tercela, ada ditangan rakyat maupun dari segi tidak adanya keterikatan dengan hukum-hukum syariah dengan dalih kebebasan. Ini jelas bertentangan dengan Islam yang menjadikan hak membuat hukum hanya ada pada Allah (QS. Yunus [12] : 40).

Atas dasar ini, sistem pemerintahan Islam (Khilafah) bukan sistem kerajaan, bukan imperium, bukan federasi, bukan republik, dan bukan pulsa sistem demokrasi sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya.

E. Permasalahan Kaum Muslimin

1. Syariat Islam dalam Dunia Pendidikan

Dalam pendidikan, akidah Islam diletakkan sebagai asasnya. Akidah Islam inilah yang menjadi penentu arah dan tujuan pendidikan, kurikulum yang diajarkan, dan metode pengajaran, termasuk penentuan  guru dan budaya sekolah dalam semua jenjang pendidikan.

Islam mewajibkan para penguasa untuk membiayai pendidikan rakyatnya. Sebab dalam pandangan syariat, penguasa berkewajiban memelihara, mengatur, dan melindungi urusan rakyat, termasuk dalam bidang pendidikan dan pemberantasan kebodohan. Dana itu diambil dari kas Baitul Mal. Ketetapan ini diambil berdasarkan fi’liyyah Rasulullah SAW.

Kondisi itu tentu jauh berbeda dengan saat ini. Biaya pendidikan dibebankan kepada rakyat. Akibatnya, pendidikan menjadi mahal. Hanya keluarga yang berkantong tebal saja yang bisa menikmati pendidikan. Jika kebijakan itu diteruskan maka kebodohan dan kemiskinan yang dialami sebagian besar rakyat akan tetap terjadi. Kebodohan dan kemiskinan structural un menjadi tak terhindarkan. Kondisi itu tentu menjadi “bom waktu” yang akan meledak suatu saat.

2. Syariat Islam dan Jaminan Keamanan

Keamanan dapat dibagi menjadi 2, yakni : (1) menyangkut keamanan Negara dari ancaman eksternal; (2) menyangkut keamanan Negara dari gangguan Internal.

3.

F. Kenapa harus Khilafah

Tanpa Khilafah sistem pemerintahan Islam tidak bisa diterapkan Karena khilafah bukan republik dan kerajaan

Tanpa khilafah persatuan umat (ukhuway islamiyah) tidak bisa direalisasikan

Tanpa khilafah kaum muslimin terkungkung krisis multidimensi ipoleksosbud

Tidak menjadi Khoiru Ummah (umat terbaik)

Tanpa Khilafah kekuatan kaum muslimin tidak mampu menandingi kekuatan Internasional musuh-musuh Islam

Tanpa Khilafah Kaum Muslimin terjajah

G. Janji Allah : Khilafah pasti berdiri

Sabda Rasulullah SAW, artinya : “Kenabian akan terjadi ditengah kalian seperti yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah menghapuskannya (menggantikannya) jika menghendaki menghapus. Kemudian akan ada Khilafah (yang tegak diatas manhaj kenabian), lalu Khilafah itu menjadi seperti yang dikehendaki Allah kemudian Allah menghapuskannya jika menghendaki menghapus. Kemudian akan ada kerajaan yang dzalim, lalu kerajaan itu menjadi seperti yang dikehendaki Allah…kemudian ada kerajaan diktator…kemudian Khilafah akan terjadi lagi diatas manhaj kenabian. (HR. Ahmad)

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diatara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang yang telah Dia ridhai….” (TQS. An-Nur [24] : 55)

H. Seruan menyerukan dan memperjuangkan Khilafah

Seorang Muslim yang amat sangat cintanya kepada Allah SWT, akan berusaha mengikuti jalan Rasulullah SAW dengan menjalankan seluruh hukum-hukum Allah melalui tegaknya sistem peradilan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem social Islam, sistem pendidikan Islam, sistem pemerintahan Islam dalam wujud Daulah Khilafah Islamiyah Rasyidah yang mengikuti jalan kenabian. Setiap Muslim yang sadar akan mendukung bahkan bergabung dengan saudara-saudaranya yang secara Ikhlas dan penuh kesungguhan masih terus berjuang secara bersama untuk menegakkan hukum-hukum Islam dengan tegaknya KHilafah.

Bagaimana mewujudkannya?

Mewujudkan Khilafah tidak sulit juga tidak mudah, butuh kesadaran dari seluruh kaum muslimin. Rasulullah SAW memberikan contoh kepada kita metode untuk mewujudkannya :

  1. membina dan mengkader para sahabat dengan pemikiran Islam
  2. mendorong mereka untuk menginteraksikan Islam kepada masyarakat hingga terbentuk kesadaran
  3. mendirikan Khilafah di Madinah

Perubahan besar pasti bisa dilakukan asal ada kesadaran dan upaya sungguh-sungguh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s